10 Juni 2008

EUFORIA EURO 2008

Meski baru satu bulan, rasanya cukup lama tidak menuliskan sesuatu di blog ini. Oleh karena itu, di sela-sela kesibukan yang terus menampar tiada henti, saya sempatkan untuk menyambut perhelatan akbar dunia, yaitu EURO 2008.

Sudah lama tidak menikmati pertandingan sepakbola yang dulu pernah menjadi teman hidup kala kuliah. Teman hidup kala begadang mengerjakan tugas-tugas kuliah di malam hari. Teman hidup kala insomnia. Tapi semenjak anak pertama lahir, enam tahun lalu, teman hidup itu mulai menjauh. Tergantikan oleh istri dan anak tercinta.

World Cup 2006 yang lalu sempat menjadi obat rindu, atau tepatnya reuni dengan teman lama. Tiap pertandingan yang disajikan memberikan euforia tersendiri. Akankah tahun ini perhelatan EURO membawa nuansa nostalgia lagi?

Tapi sepertinya hidup bukan lagi seperti yang dulu. Tradisi begadang sampai malam hanya menunggu pertandingan bola sepertinya sirna. Mengatur waktu tidur sudah tidak bisa dilakukan lagi. Tapi highlight & siaran ulang di TV, harian Kompas & SoloPos, situs-situs di internet memberikan makna tersendiri bagi orang seperti saya yang sudah sulit untuk begadang malam.

Namun demikian, euforia EURO 2008 masih tetap terasa. Kerinduan terhadap "teman lama" masih bisa terobati dengan jadwal pertandingan yang terpaparkan. Akan tetapi, salah satu tim favorit, Inggris, tidak muncul di tahun ini. Gregetnya seolah terasa kurang. Apalagi ketika pertandingan antara Belanda melawan Italia, tim negara pizza itu dibantai 3-0 pada laga pertama bulan Juni ini. Akankah EURO 2008 kehilangan euforia-nya sampai final nanti? Just wait and see. Deddy Cobuzier, sang mentalist Indonesia, menambah euforia ini lewat perseteruannya dengan Roy Surya berkenaan dengan perhelatan akbar dunia bola ini. Siapakah pemenangnya di final nanti? Lagi-lagi, just wait and see...

16 Mei 2008

PROFESI MUDHARAT

Seorang rekan bertemu dan bercerita pada saya tentang apa yang baru saja terjadi padanya. Ceritanya begini:

Tanpa disangka-sangka suatu sore, ia didatangi segerombol orang (kurang lebih 5 orang) yang mengaku aparat polisi (tak berseragam). Mereka menanyakan perihal HP yang kebetulan merk-nya sama dengan yang pernah dibeli rekan saya itu. Memang HP itu dibelinya batangan, tanpa box.

Merasa bersalah, rekan saya itu panik. Tentunya ia tidak ingin terlibat dalam kasus kriminal. Banyak sudah cerita bahwa jaman sekarang orang yang tidak bersalah selalu dikalahkan dalam kasus-kasus kepolisian. Benar begitu?

Semula ia berbohong tidak tahu-menahu tentang HP tersebut. Tapi gerombolan yang mengaku sebagai aparat kepolisian itu mengatakan bahwa alat canggih mereka telah mendeteksi nomor kartu rekan saya yang pernah digunakan pada HP yang mereka cari.

Namun rekan saya tidak segera menyerahkan HP yang sudah menjadi miliknya itu. Ia pun sedikit mengarang cerita. Tujuannya, ia ingin orang yang menjual HP itu padanya yang harus menyelesaikan masalah ini. Beruntung ia membeli HP itu dari saudaranya sendiri. Ia pun segera menghubungi saudaranya itu, dan beruntung saudaranya itu mau bertanggung-jawab. Kasus ini dihadapi saudaranya di kantor polisi.

Anehnya di kantor polisi, apa yang tertulis di surat laporan kehilangan dan apa yang diceritakan oleh pihak yang kehilangan terdapat beberapa perbedaan. Dalam surat laporan kehilangan, kerugian yang dialami pihak pelapor sebesar Rp 1,3 juta. Sementara secara lisan dikatakan bahwa HP seperti itu harga jualnya bisa mencapai Rp 3,5jt. Lalu di surat laporan kehilangan dituliskan bahwa hilangnya barang itu ketika si pemilik sedang tidur. Namun secara lisan dikatakan bahwa HP itu dibawa anak si pemilik di mall, dan dijambret. Belum lagi, ketika HP itu diserahkan ke orang yang mengaku pemiliknya, orang tersebut tidak bisa mengoperasikannya. Lucu!

Untungnya rekan saya itu bukan orang yang mau rumit. Ia tidak ingin kasus ini jadi berkepanjangan. Dia adalah tipe law-abiding citizen (warga yang sadar hukum). Maksudnya adalah orang yang tahu hukum dan aturan, lalu menaatinya karena takut berurusan dengannya. Sama seperti saya.

Ia masih bersyukur bahwa ia masih mendapat ganti rugi sebesar Rp 300 ribu. Sedikit memang, dibanding dengan jumlah yang sudah dikeluarkannya untuk membayar HP itu ketika membelinya. Tapi, ya bagaimana lagi. Jika ia tidak menerima uang itu, kasus tersebut akan diajukan ke pengadilan. Urusan bisa menjadi lebih runyam. Tahu sendiri bahwa hukum manusia tidak pernah memihak pada orang yang tidak bersalah, tapi lebih memihak pada orang yang lebih berkuasa dan yang lebih berharta. Sangat jauh berbeda dengan hukum Tuhan.

Saya pun membenarkannya. Apapun yang terjadi, pasti ada hikmahnya. Dari cerita itu, saya sendiri heran, bagaimana HP yang hilang bisa dideteksi? Sehebat itukah teknologi kepolisian kita? Lalu bagaimana dengan nasib HP-HP lain yang juga hilang karena dijambret orang?

Istri saya juga pernah kehilangan HP mahal merk Nokia 9500 yang waktu itu masih baru-barunya. HP itu dijambret orang dalam tas milik istri saya. Waktu itu juga kami lapor pihak yang berwajib. Tapi sudah lebih dari satu tahun ini barang itu tidak pernah kembali lagi.

Bagaimanapun juga saya mengikhlaskan kejadian itu. Demikian juga dengan rekan saya atas musibah yang menimpanya. Tuhan selalu member pelajaran pada manusia atas apa yang telah terjadi pada manusia itu sendiri. Teringat cerita Habiburrahman dalam Ketika Cinta Bertasbih 1, bagaimana tokoh Azzam yang ditolak lamarannya pada seorang gadis. Dirinya malah merasa direndahkan. Begitu pula tokoh Furqan yang mendapat musibah ketika menyendiri untuk menghadapi sidang tesisnya.

Semua itu tidak sekedar cerita, namun sering terjadi dalam kehidupan nyata. Oleh karenanya, ketika mendapakan anugerah, jangan terlalu euforia sampai ke ekstasi (kegembiraan yang amat sangat). Sementara ketika mendapat musibah, jangan terlalu bersedih atau kecewa yang pada akhirnya merugikan diri sendiri.

Kembali pada cerita rekan saya, lantas jika dipikir, apa manfaat yang diperoleh dari profesi segerombolan orang yang mendatangi rekan saya itu dan menimpakan musibah padanya? Kalau toh semua itu dilakukan, kenapa tidak pada HP-HP yang hilang lainnya? Ternyata, usut punya usut, HP itu milik orang dalam juga. Milik salah seorang reserse kepolisian wilayah itu. Aneh.

Jika profesi mereka bermanfaat, kenapa kasus perampokan di berbagai tempat tidak bisa terselesaikan dengan baik? Lalu apa gunanya aparat keamanan kalau lingkungan tidak aman? Jika mereka mengatakan bahwa keamanan tergantung dari masyarakatnya sendiri, kenapa harus ada mereka? Bukankah mereka ada untuk mengamankan masyarakat? Kenapa jadi malah meresahkan seperti yang dialami rekan saya?

Saya masih bersyukur. Hal ini juga saya katakan pada dia yang cuma seorang guru honorer sebuah SMP negeri. Gajinya mungkin tidak ada 30% dari gerombolan yang mendatanginya. Bagaimana pun juga kami masih bermanfaat bagi masyarakat, karena memberikan ilmu dan pengetahuan.

Saya juga merasa lebih yakin dengan pilihan hidup saya sekarang. Saya pernah menolak beberapa profesi yang ditawarkan di kota-kota besar dengan gaji yang tinggi. Saya tetap memilih menjadi seperti sekarang. Menjadi seorang pendidik, pengajar, dan pemimpi. Dan semoga ini menjadi profesi saya sampai akhir hayat. Dan semoga pula Tuhan selalu membimbing saya untuk lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara, terutama kaum yang tertindas. Amin.

28 April 2008

PARA PAHLAWAN PENDIDIKAN MODERN

Pada hari Rabu pagi, pukul 13.30, Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumatera Utara digerebek para anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Kepolisian Daerah Sumut. Waktu itu para guru tertangkap basah sedang membetulkan (mengubah jawaban menjadi benar) pada lembar jawab siswa SMA tersebut di dalam sebuah ruang khusus. Semua itu telah terencana sebelumnya, mengingat hasil uji coba Ujian Nasional (UN) siswa di sekolah itu sangat buruk. (Kompas, 26 April 2008)

Sebagian orang, atau malah kebanyakan, mungkin menyayangkan perbuatan seperti itu. Ya, memang mungkin begitu bagi kita yang tinggal di kota-kota besar di Pulau Jawa, terutama para pendidik, baik guru maupun dosen. Tindakan para guru SMA Negeri 2 Lubuk Pakam itu sungguh memalukan. Mencoreng muka pendidikan di negara kita. Tapi benarkah demikian?

Mungkin juga bisa jadi tidak demikian. Sudah banyak para pakar atau pemerhati pendidikan yang tidak setuju dengan diadakannya UN. Namun pemerintah tetap saja bersikeras bahwa UN adalah satu-satunya tolok ukur kualitas pendidikan negara kita. Sungguh menyedihkan! (baca juga artikel yang saya posting sebelumnya, berjudul “Menggagas Pendidikan di Indonesia”)

Semua orang tahu, bahwa selama ini pembangunan kurang merata di beberapa daerah. Pembangunan hanya terfokus pada pulau Jawa. Sementara pulau-pulau lain masih banyak yang jauh terbelakang. Nah, hal yang demikian ini sangat tidak mungkin kemampuan siswa di Sumatera Utara disamaratakan secara total dengan siswa-siswa di Jakarta melalui UN. Terang saja para guru di daerah sana kalang-kabut. Mereka nyaris tidak bisa berbuat apa-apa, mengingat fasilitas yang dimiliki jauh dibandingkan dengan sekolah-sekolah di Jawa. Aspirasi mereka pun tidak ditanggapi dengan baik. Alhasil, mereka berbuat melenceng dari profesinya agar tidak ‘membunuh’ masa depan siswa. Sama halnya seperti makan buah simalakama.

Kalau melihat pelajaran sejarah, para pahlawan nasional kita pun di masa kolonialisme, pada masa itu sempat merasa bingung. Diam berarti membuat sebagian rakyat sengsara, berbuat sesuatu malah menentang pemerintah dan bahkan mungkin bangsa pribumi yang pro pemerintah. Tapi mereka adalah para pahlawan, yang tidak betah melihat penindasan.

Tahukah anda bahwa Ki Hajar Dewantoro disebut sebagai pahlawan pendidikan karena menentang konsep pendidikan masa itu? Waktu itu pemerintah Belanda menyeragamkan kurikulum pendidikan di tanah jajahannya. Ki Hajar Dewantoro tidak menginginkan keseragaman itu. Beliau menginginkan yang lain tapi bersifat nasionalis, dan yang terpenting adalah mendidik, bukannya mendoktrinasi. Oleh karena itu, beliau dianggap sebagai pemberontak.

Sama halnya dengan Raden Mas Ontowiryo (lebih terkenal dengan nama Pangeran Diponegoro). Beliau juga dianggap pemberontak oleh pemerintah masa itu. Banyak orang di kalangan menengah atas yang mengecam tingkah-lakunya, karena merugikan mereka.

Apakah para guru SMA Negeri 2 Lubuk Pakam itu kelak dianggap sebagai pahlawan ketika kolonialisme UN berakhir?

Berdasarkan informasi yang diperoleh, ternyata tidak cuma sekolah di SMA Negeri 2 Lubuk Pakam saja yang melakukan perbuatan ‘curang’ tersebut. Beberapa sekolah, terutama di daerah-daerah, juga melakukannya beberapa tahun terakhir ini. Namun nasib jelek menimpa para guru di SMA Negeri 2 Lubuk Pakam yang tertangkap basah.

Akankah kejadian yang bukan cuma sekali itu terjadi akan membuka mata pemerintah yang masih menganggap ‘dewa’ bagi UN? Semoga saja. Karena pendidikan adalah hal yang paling krusial dalam diri bangsa. Maju-mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh pendidikannya, bukan banyak-sedikitnya koruptor yang ada dalam tubuh bangsa tersebut. Oleh karenanya kemajuan pendidikan harus kita pikirkan bersama. Bukannya malah mengejar-ngejar koruptor yang pada akhirnya membentuk badan-badan korup yang baru, atau malah menimbulkan saling tuduh, rasa curiga, dan lapor-melapor dengan bukti aspal (asli tapi palsu). Majulah pendidikan Indonesia!! [dh]

23 April 2008

INTERNET WILL BE DEAD SOON

Pagi ini, 23 April 2008, sambil menunggu istri yang sedang berkemas-kemas untuk berangkat kerja, saya sempatkan membuka harian KOMPAS yang tergeletak di meja teras depan rumah. Hanya dengan ditemani susu sari kedelai hangat yang tinggal seperempat gelas, saya terkejut melihat satu artikel kecil di pojok kanan bawah halaman depan suratkabar nomor satu di Indonesia itu.



Jujur, saya salah seorang dari sekian banyak orang di dunia yang percaya bahwa teknologi mutakhir akan sangat membantu kehidupan umat manusia. Sementara sebagian yang lain bilang, bahwa perkembangan teknologi akan membawa manusia pada akhir dunia (the end of the world). Entah mana yang benar, tapi selama ini saya hidup ditopang banyak oleh teknologi, termasuk salah satunya internet.



Internet akan mati? Ternyata dalam artikel di KOMPAS tidak mengatakan demikian. Para pakar teknologi memprediksikan bahwa dalam waktu dekat, internet akan mengalami tragedi kemacetan yang sangat dahsyat. Kenapa? Karena dewasa ini begitu banyaknya bandwidth yang dibutuhkan untuk media-media website baru. Beberapa website baru itu membutuhkan bandwidth yang sangat tinggi karena menampilkan video streaming dan gambar-gambar bergerak lainnya, termasuk file-file besar yang banyak diunduh (baca: download) oleh user. Contohnya saja, YouTube dikatakan bahwa saat ini penggunaan bandwidth-nya sama dengan total penggunaan internet di dunia pada tahun 2000.



Jika demikian adanya, para pakar teknologi memprediksikan tragedi internet akan terjadi pada tahun 2011. Betulkah?



Selesai membaca artikel tersebut, saya berpendapat bahwa tidak mungkin tragedi itu terjadi. Bahkan tidak mungkin internet kolaps atau berakhir begitu saja. Internet adalah teknologi komunikasi yang paling mutakhir saat ini. Apakah semua orang akan berdiam diri? Apakah para pakar teknologi tidak akan bertindak?



Mengutip satu artikel dari pembelajar.com, teknologi internet membutuhkan waktu yang jauh lebih cepat dibandingkan teknologi televisi dan radio dalam merambah dunia. Mungkin kecepatan inilah yang mengkhawatirkan beberapa penganalisa bahwa internet akan mengalami kemacetan total.



Saya yakin, pengembangan akan terus dilakukan. Inovasi-inovasi baru akan ditemukan. Semua demi menopang keberlangsungan teknologi internet ini. Saya yakin begini, karena apa yang saya alami ketika melihat perkembangan internet sejak tahun 1990-an begitu pesatnya. Mulai dari teknologi fiber optic sampai dengan nirkabel yang membuat akses internet semakin menggila kecepatannya. Semua itu membuktikan bahwa manusia masih terus berusaha. Manusia masih selalu diberi fitrah oleh Tuhan untuk terus berkarya. Dan apakah Tuhan akan menghentikan karya manusia yang sangat bermanfaat bagi manusia itu sendiri? Where there is a will, there is a way.

15 April 2008

Menggagas Pendidikan di Indonesia

Tahun ajaran baru sudah mulai dekat. Saatnya sekolah-sekolah membuka pendaftaran bagi siswa didik baru. Ironisnya, pihak sekolah bancakan, sementara masyarakat kelas menengah ke bawah meringis kesakitan. Kenapa?

Tidak ada orangtua yang mengharapkan anaknya masuk ke sekolah yang non-favorit. Namun sayangnya, sekolah-sekolah favorit mematok biaya yang relatif tinggi. Tentunya biaya yang relatif tinggi itu sangat menyesakkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Haruskah memaksakan diri demi pendidikan anak?

Banyak yang bilang, pendidikan anak adalah segala-galanya. Bahkan nyawa pun taruhannya demi menjadikan anak terdidik dengan baik. Tapi haruskah hal demikian ini dimanfaatkan oleh sekolah-sekolah yang berhasil mendapatkan predikat favorit? Sungguh bukan moral dasar pendidikan bila sampai terjadi hal yang demikian.

Pemerintah harusnya mulai peduli dengan hal ini. Jangan asal mengatakan peduli, tapi tidak terlihat dalam tindakan yang signifikan. Kalau toh peduli, apa alasan pemerintah tidak segera mewujudkan anggaran 20% dari RAPBN untuk pendidikan? Sebegitu sulitnyakah?

Ujian Nasional
Pemerintah masih percaya bahwa Ujian Akhir Nasional atau UASBN adalah satu-satunya tolok ukur pendidikan di Indonesia. Banyak pakar pendidikan mengatakan hal ini salah besar. Ujian Nasional malah cenderung menimbulkan bentuk-bentuk korupsi baru.

Agaknya menghapus Ujian Nasional menjadi momok para pejabat di dunia pendidikan. Bagaimana tidak, pendapatan yang bisa dikeruk dari Ujian Nasional ini begitu besar. Dana yang semula dianggarkan Rp 500 juta, lalu dipangkas oleh Komisi X DPR menjadi Rp 96 juta tapi tetap saja berani dijalankan (Kompas, 27 Maret 2008). Dari Rp 500 juta menjadi Rp 96 juta tersebut bisa kita lihat bagaimana kemampuan pemerintah dalam menganggarkan sesuatu. Kecurigaan bahwa Ujian Nasional juga menjadi bancakan bagi pihak-pihak tertentu kemungkinan memang terjadi.

Bahkan menurut saya, adanya Ujian Nasional bisa mematikan daya kreatifitas siswa pada bidang ilmu lain. Bagaimana tidak, semua siswa terfokus pada pembelajaran untuk mata pelajaran yang di-UN-kan. Sementara bagaimana jadinya bagi mereka yang memiliki kecerdasan musical yang tinggi? Bagaimana dengan siswa yang lebih menyukai bidang seni? Pun tidak ada gunanya mata pelajaran Bahasa Jawa di wilayah Surakarta. Tidak ada gunanya Pemkot Solo menggembar-gemborkan untuk melestarikan budaya Jawa. Untuk apa belajar ndalang (menjadi dalang wayang kulit), atau belajar susah-susah huruf honocoroko (huruf Jawa) bila akhirnya tidak ada masa depannya untuk pendidikan lebih tinggi.

Ketika semua siswa tersihir oleh Ujian Nasional, maka rusaklah pendidikan di Indonesia. Semua hancur berantakan, karena segala daya upaya dilakukan oleh para siswa, guru dan pihak-pihak terkait seperti lembaga-lembaga bimbel, untuk menghasilkan nilai siswa di atas standar. Terlupakan sudah kreatifitas bangsa negeri ini. Semua sudah terprogram seperti robot oleh software yang maha dahsyat yang disebut sebagai Ujian Nasional. Begitu memprihatinkan!

Buku Pelajaran
Solusi buku pelajaran murah agaknya belum bisa memberikan kontribusi yang adil bagi masyarakat. Ide pemerintah yang membeli hak cipta beberapa buku pelajaran yang nantinya akan digunakan oleh sekolah-sekolah bisa ‘membunuh’ pasar buku pada umumnya. Pemerintah telah memonopoli keuntungan satu pihak, dan mematikan pihak lain, terutama penerbit-penerbit yang telah lama menguasai pasar buku pelajaran. Meski pemerintah berdalih bahwa buku-buku tersebut bisa diproduksi oleh khalayak umum, tapi harga maksimal Rp 7.500,- sulit untuk ditolerir pihak penerbit dibandingkan harga lama. Lagi-lagi timbul kecurigaan adanya proyek terselubung dari pejabat terkait dalam hal ini.

Ada seorang rekan sewaktu omong punya omong memberikan gagasan yang bagus mengenai buku pelajaran sekolah ini. Apakah tidak dimungkinkan para pengusaha di seluruh negeri dilibatkan dalam hal ini? Biarkan para pengusaha—yang termasuk anak-anak bangsa—secara tidak langsung ikut serta memikirkan dunia pendidikan. Bagaimana caranya?

Sediakan tempat dalam buku-buku pelajaran tersebut untuk beriklan yang berhubungan dengan pendidikan. Misalnya lembaga-lembaga pendidikan dan toko-toko buku berpartisipasi menyumbangkan sebagian dana promosi mereka untuk beriklan dalam buku-buku pelajaran. Mirip dengan buku Yellow Pages yang dibagikan secara cuma-cuma pada semua pelanggan Telkom.

Dengan iklan-iklan yang berhubungan dengan pendidikan, selain memberi informasi tambahan, menjadikan buku pelajaran sangat dimungkinkan untuk dibagikan secara gratis.

Iklan dalam buku pelajaran? Phobia seperti yang dialami TVRI masa orde baru sepertinya membayangi sebagian orang. Dulu TVRI paling anti dengan iklan dalam setiap program acaranya. Tapi bagaimana perkembangannya sekarang? Dilihat dari umur, stasiun-stasiun televisi swasta jauh lebih muda tapi perkembangannya begitu pesat dan program-program acaranya sangat menarik sekaligus berbobot (meski cuma beberapa stasiun televisi swasta yang memiliki program acara berbobot).

Silakan belajar juga pada perusahaan super raksasa, Google. Dari mana penghasilan perusahaan tersebut selama ini? Tak lain dan tak bukan hanyalah dari iklan semata. Dan ini membuat Google merajai dunia bisnis.

Bila iklan dan buku pelajaran menjadi satu, maka terwujudlah sinergi yang menjanjikan antara pendidikan dan pengusaha. Pengusaha dalam hal ini ikut andil dalam dunia pendidikan. Selama ini, apa andil pengusaha terhadap pendidikan?

Seandainya sinergi antara pengusaha dan pendidikan ini terwujud dalam berbagai hal, niscaya pendidikan murah akan lebih mudah direalisasikan.

Contoh lain bisa dilihat bagaimana peran usaha stasiun-stasiun televisi swasta berhasil mengumpulkan dana dari para pemirsa mereka untuk membantu daerah-daerah yang terkena musibah. Ambil contoh, Aceh yang telah diserang gelombang tsunami. Beberapa stasiun televisi dan media massa lain telah memberi bantuan dalam jumlah yang tidak sedikit. Bagaimana jika sinergi ini diterapkan dalam dunia pendidikan? Jadi tidak hanya pemerintah saja yang memiliki beban (atau malah bancakan, karena memonopoli) terhadap dunia pendidikan.

Semua itu jika kita sadar bahwa pendidikan yang baik adalah dasar utama sebuah negara untuk lebih maju. Namun sebaliknya, jika kita sudah tidak mau peduli lagi dengan pendidikan, maka rusaklah negara[dh]

31 Maret 2008

AYAT-AYAT FITNA

Agak terlambat bagi saya mendengar film yang menggemparkan dunia, terutama umat Islam. Film yang berdurasi cuma sekitar 15 menit itu berjudul FITNA.

Sebelumnya saya tidak tahu kalau film tersebut akan ditayangkan secara online di internet. Gratis. Waktu itu perhatian saya tertuju pada santernya berita suksesnya film Ayat-Ayat Cinta. Begitu saya tahu, Fitna ternyata ada di internet, saya pun mengaduk-aduk dunia maya untuk mencarinya. Namun sayang, situs utama penayang film ini, yaitu LeakLive.com telah dihapus dalam servernya. Beruntung YouTube masih menyisakan sebagian.

Terus-terang belum tuntas saya menonton film tersebut, karena entah kenapa pada pertengahan film yang saya tonton terputus begitu saja. Beberapa kali saya ulang, tetap saja terputus pada bagian itu. Oleh karenanya, dalam tulisan ini, saya sekedar menunjukkan beberapa ayat yang dikutip dalam film Fitna dan dibandingkan dengan terjemahan dalam kitab suci Al Quran yang saya miliki, yaitu terbitan UII Press, 2003.

Ayat Pertama:
Surat 8 (Al Anfaal), ayat 60

Versi film Fitna:
Prepare to destroy them with all force
terrorise Allah's enemy and your enemy


Versi kitab suci Al Quran, lengkap 1 ayat:
Untuk menghadapi mereka siapkanlah segala kemampuan,
Dari pasukan kuda yang ditambat,
Dengannya kamu mampu menggetarkan musuh Allah dan musuh kamu,
Serta kelompok lain yang tidak kamu ketahui, tetapi Allah mengetahui.
Apa saja yang kamu belanjakan di jalan Allah,
Niscaya akan dibalas secara sempurna, sedang kamu tidak akan dirugikan.

Ayat Kedua
Surat 4 (An Nisaa’) ayat 56

Versi film Fitna:
Those who are disbelievers will be burned in fire
and when their skin is crispy like a turkey's
we will replace it with another skin
so that they will know their punishment
Allah is great and wise

Versi kitab suci Al Quran, lengkap 1 ayat:
Mereka yang kafir kepada ayat Kami akan Kami masukkan ke neraka.
Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain,
Agar mereka merasakan azab itu.
Sungguh Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Ayat Ketiga
Surat 47 ayat 4

Versi film Fitna:
When you have an encounter with a disbeliever
cut their throats with a sword and spill their blood


Versi kitab suci Al Quran, lengkap 1 ayat:
Kalau kamu berjumpa orang-orang kafir dalam peperangan, potonglah batang leher mereka,
Kemudian kamu dapat membebaskan secara murni atau dengan tebusan,
Sampai peperangan benar-benar berhenti.
Demikian sekiranya Allah menghendaki, pasti Ia berkuasa membinasakan mereka,
Tetapi Allah akan menguji sebagian kamu dengan yang lain.
Mereka yang terbunuh dalam menegakkan agama Allah,
Dia tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.

Selintas Komentar
Sengaja saya tidak menerjemahkan bahasa Inggrisnya. Anda yang mahir dalam berbahasa Inggris akan melihat secara jelas penyesatan makna yang terkandung dalam versi Inggris dan Indonesianya. Sayang sekali saya tidak menguasai bahasa Belanda. Padahal film itu sebenarnya dibuat dalam bahasa Belanda.

Untuk lebih jelas memahami makna yang terkandung dalam setiap ayat yang dikutip, silakan buka kitab suci Al Quran, lalu bacalah ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Misalnya pada kutipan Ayat Pertama, bacalah surat Al Anfaal ayat 50 (dan atau sebelumnya) sampai dengan ayat 70 (dan atau sesudahnya).

Bagi saya, Greet Wilders, si pembuat film, telah mengemasnya terlalu sembrono. Jelas 100% ia tidak memahami apa yang dikutip dalam kitab suci Al Quran, sehingga salah menafsirkan maknanya. Dan sepertinya memang ini bukan film serius, melainkan film main-main saja, sebagaimana sama dengan kebanyakan film yang ada dalam YouTube.

Lewat film itu, Greet Wilders tidak membukakan mata dunia, tetapi malah mencari musuh. Sama halnya gambar kartun Nabi Muhammad yang ditampilkan pada pembuka film. Wilders tidak tahu kalau kasus gambar kartun tersebut dikarenakan umat Islam melarang keras mewujudkan Nabi mereka dalam wujud gambar atau patung. Sepertinya memang Wilders mau cari penyakit!

Bagi anda yang sudah berhasil men-download film Fitna, selamat menikmati film tersebut. Tapi apakah pernah terlintas di benak anda, ada ajaran agama yang menghalalkan kekerasan secara membabi-buta? Kalau menurut saya, semua agama mengajarkan kasih sayang, baik secara vertikal maupun horizontal. Hablum minannaas, hablum minnallah. Kalaupun ada sekelompok orang yang mengaku dari ajaran agama tertentu membuat keonaran tanpa suatu alasan yang jelas, Tuhan akan melaknatnya. Laknatullah! Jika anda pernah membaca sejarah Nabi Muhammad, sang pembawa Islam, salah satu ajaran beliau yaitu bertoleransi antar umat beragama. Siapa yang diperangi Muhammad kala itu? Orang-orang kafir! Siapakah orang-orang kafir itu? Yang dimaksud orang-orang kafir adalah orang-orang yang menentang ajaran Nabi Muhammad. Orang-orang yang melarang umat Nabi beribadah sesuai dengan ajaran beliau. Orang-orang yang menyiksa orang lain demi meninggalkan ajaran Nabi. Orang-orang yang iri dan dengki terhadap Nabi. Itulah orang-orang kafir! Jadi TIDAK semata-mata orang non-muslim disebut kafir.

Akhir kata, jadilah orang beragama yang baik. Tidak ada gunanya memiliki rasa iri dan dengki terhadap agama lain. Tuhan akan melaknat manusia yang memiliki rasa iri dan dengki. Jangan sampai tersesat oleh Ayat-Ayat Fitna. [dh]

19 Maret 2008

MOSAIK MOZART

Sinopsis: Harmoni, seorang duda dengan satu anak. Istrinya meninggal setelah melahirkan Mozi si kecil. Kesalahan dalam proses kelahiran harus mengorbankan nyawa Intan, istrinya. Pikiran semacam inilah yang membuat Harmoni bersikukuh tidak segera mencari pengganti ibu bagi anaknya.
Masuknya Dona dalam kehidupan Har (panggilan akrab Harmoni) membuat segalanya berubah. Menikmati kehidupan yang pernah dialami bersama istrinya rupanya harus dibayar mahal dengan peristiwa-peristiwa tragis yang harus dihadapinya. Hilangnya Endah sang adik ipar dari rumah sakit jiwa, kematian Nita sang babysitter, kebakaran sekolah musiknya, disusul dengan kematian ibu mertuanya.
Mengapa peristiwa-peristiwa tragis mendatangi hidupnya sesaat setelah ia menjalin hubungan dengan Dona? Adakah yang menaruh dendam kepadanya? Dan siapakah Dona sesungguhnya? Belum habis berpikir, Har mendapati Mozi, bayi mungilnya hilang!


15 Maret 2008

STOP HIDUP KAYA-RAYA!

Tulisan ini saya buat setelah beberapa saat merenungi sebuah buku berjudul “Mengapa Muhammad tidak Memilih Kaya-Raya” oleh Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah, diterbitkan oleh Qudsi Media (qudsi_media@yahoo.co.id).

Jujur baru sekali saya membaca buku itu, namun efeknya seolah menghantam pikiran sehingga membawa kesadaran penuh akan apa arti hidup sebenarnya di dunia ini. Intelektualitas (baca: kedewasaan berpengetahuan) memang telah menyadari arti dari hidup. Namun seringkali nafsu, cita-cita dan dorongan dari luar menghalalkan segalanya sehingga membutakan kesadaran yang sudah ada. Terutama hidup di jaman modern ini.

Banyak orang jaman sekarang keblinger dengan gemerlap duniawi. Banyak orang menuntut dan memaksa dirinya sendiri untuk menikmati dunia ini sepuas-puasnya sampai tanpa batas. Kesenangan yang disadari hanya sesaat dipoles menjadi lebih hakiki. Pembenaran terhadap kesalahan adalah hal yang lazim.

Buku itu memang menunjukkan sikap hidup Rasulullah Nabi Muhammad saw. yang menjadi tokoh bagi umat muslim. Namun saya 100% yakin bahwa umat beragama lain akan meng-amin-i sikap semacam itu. Secara mendasar tidak beda jauh dengan sang Kristus atau sang Buddha. Esensinya hanya satu, yaitu: kesederhanaan.

Akan tetapi banyak orang sekarang ini yang mengaku Islam, Kristen, Katolik, Hindu maupun Buddha, dan agama lainnya, tapi melupakan (atau memang tidak tahu) pribadi sang pembawa agama itu. Orang Islam lebih mengidolakan musisi/penyanyi/bintang sinetron terkenal ketimbang Muhammad. Orang Kristen/Katolik pun demikian, lebih mengenal pribadi bintang film/sinetron dibanding sang Juru Selamat, Yesus Kristus. Agama hanya sekedar label bermasyarakat.

Menyimak sejarah hidup dua tokoh terbesar di dunia itu (setuju tidak kalau Nabi Muhammad & Yesus Kristus adalah orang-orang terbesar dalam sejarah dunia?), salah satu hal yang sangat terpatri dalam hati saya adalah sikap begitu sederhananya. Padahal keduanya kalau mau kaya-raya pada jaman itu, bisa saja. Muhammad menikahi janda kaya-raya, tapi beliau tidak pernah memanfaatkan harta istri beliau itu untuk kemewahan duniawi. Bahkan istri beliau, Khadijah, meninggal dalam keadaan miskin tanpa harta. Ke mana larinya harta Khadijah? Tak lain dan tak bukan adalah di jalan Tuhan.

Saya bukan pendeta, bukan ustadz apalagi ulama. Saya hanya orang biasa yang haus akan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu saya tidak bermaksud memberi ceramah/khotbah layaknya di tempat-tempat ibadah. Saya hanya sekedar berbagi pengetahuan dan pemikiran dengan para pembaca ketika melihat fenomena dunia yang di beberapa tempat sudah terlihat kemewahan dan kemegahannya ini.

Saya seringkali merenung ketika bisa merasakan nyaman ketika berada dalam mobil seharga cuma 50 jutaan, sementara banyak orang miskin berjejalan, berjubel-jubel dalam angkutan umum dengan bau berjuta rasa. Muncul rasa iba saya saat mengetik seperti ini dengan menggunakan notebook yang dibeli dengan harga hampir 10 juta, kemudian mengingat berita-berita yang barusan saya baca lewat SoloPos atau KOMPAS tentang kelaparan yang menimpa sebagian daerah di negara kita (terutama tragedi Lumpur Lapindo yang sampai sekarang masih kedengaran sangat tragis).

Saya memang sensitif. Tapi sampai saat ini saya tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara pemerintah sekarang hanya memikirkan perutnya sendiri dengan tidak mempedulikan nasib rakyat. Terlebih lagi membaca artikel di Harian KOMPAS pada hari Senin, 10 Maret 2008 halaman 37. Aritikel itu menunjukkan bahwa pemerintah kita sungguh brutal membiarkan rakyatnya sengsara. Sesuai dengan judul artikel yang berhubungan dengan kelaparan itu, yakni: “Peristiwa Brutal yang Dianggap ‘Biasa’”.

Memang sih ada penanganan-penanganan yang dilakukan pemerintah kita terhadap kelaparan di negeri ini. Namun, seperti yang ditulis dalam artikel itu, penanganannya bersifat sementara. Alhasil, kelaparan pun sering terjadi. Tambah lagi, harga sembako yang makin gila-gilaan, kelangkaan BBM, kenaikan tarif listrik dan air minum. Semua itu membunuh rakyat kecil.

Melihat fenomena semacam ini, perlukah kita bermobil mewah hanya sekedar untuk pamer? Haruskah kita mengganti handphone berharga mahal, sementara kita cuma butuh untuk nelpon dan SMS doang? Pantaskah kita menghias rumah dengan barang-barang mahal, agar dipandang berada oleh lingkungan kita?

Saya bukan penganut anti-orangkaya. Saya termasuk orang berada. Tapi juga bukan termasuk orang dermawan L. Saya sekedar sosok makhluk Tuhan yang sedang belajar memahami lebih mendalam esensi hidup. Bagi saya, hidup adalah mati. Barangsiapa yang ingat akan mati, insya Allah bisa memahami hidup ini. Seperti Umar bin Khattabh r.a. berkata bahwa orang yang cerdas adalah orang yang selalu ingat akan kematian.

Kemewahan bukan segalanya jika hanya dipamerkan. Kaya akan harta akan lebih bermanfaat jika dimanfaatkan di jalan Tuhan. Tapi bukan berarti membuat kaya pendeta, ustadz, ulama, atau pemuka agama tertentu. Bukan juga berarti untuk memegahkan tempat ibadah sehingga menimbulkan kesombongan yang begitu besar.

Memanfaatkan di jalan Tuhan berarti ikut berpartisipasi baik langsung maupun tidak langsung untuk kemaslahatan umat. Ikut serta memikirkan sesama, bukan yang segolongan. Mengembangkan kemampuan berempati daripada nafsu. Banyak belajar demi menimba ilmu pengetahuan secara seimbang, baik untuk dunia maupun akhirat.

Jika setiap warga negara Indonesia berwawasan luas, dan memiliki empati yang baik, niscaya belenggu keterpurukan akan berangsur-angsur sirna. Namun sebaliknya, jika pejabat-pejabat pemerintahannya korup, dan masyarakatnya bodoh serta hanya mengumbar nafsu, tidak lama lagi negara kita pun akan tamat riwayatnya.

Sangat tidak seimbang, ketika terlihat banyak mobil mewah berseliweran di jalan raya, gedung-gedung bertingkat nan megah menjulang tinggi, sementara masih banyak saudara-saudara kita yang dilanda musibah kelaparan.

Belajarlah untuk tidak hidup kaya-raya. Stop bermewah-mewahan. Tanamkan kesederhanaan dalam diri kita masing-masing, termasuk orang-orang terdekat anda. Belanjakanlah harta secara bijaksana. Jadilah tauladan yang baik dan benar bagi sesama. Jangan seperti para pejabat PLN yang mengembar-gemborkan untuk hemat listrik, sementara mereka sendiri boros listrik. Tidak juga seperti para pejabat Pertamina yang meminta rakyat untuk hemat BBM, sementara kebutuhan BBM untuk mereka gila-gilaan. Jikalau anda menjual produk bermerk A, maka pakailah selalu produk bermerek A tersebut. Jangan memaksa orang lain untuk memakan sesuatu yang anda sendiri tidak mau memakannya. Jangan suka mencubit orang lain jika anda sendiri tidak mau dicubit.

Salam sederhana!

11 Maret 2008

KEBANGKITAN FILM NASIONAL (SAMPAI KAPANKAH?)

Tulisan ini saya buat setelah mendengar dan melihat kabar penayangan perdana film Ayat-Ayat Cinta (AAC) pada tanggal 28 Februari 2008 serentak di seluruh Indonesia. Tentunya yang saya pantau baru di wilayah kota Surakarta di mana saya tinggal, terutama di Grand 21 Solo Grand Mall (SGM) yang menjadi barometer sinema di kota yang punya nama lain Solo ini.

Enam tahun sudah sejak film Ada Apa dengan Cinta (AADC - 2002) menghipnotis para pecinta film untuk rela antri di loket tiket gedung bioskop guna melihat dengan mata kepala sendiri kabar bagusnya cerita dan akting para pemerannya. Mungkin pertama kali yang menjadi daya tarik film itu adalah pemeran-pemerannya. Semua orang mengakui bahwa Nicholas Saputro cakep. Begitu juga Dian Sastro. Promosi juga begitu gencarnya lewat media massa atau elektronik yang menyatakan bahwa akting mereka juga luar biasa. Siapa yang tidak penasaran?

Belum lagi para pecinta film di negara kita nampaknya haus akan film-film nasional. Setelah film Petualangan Sherina yang juga memikat sebagian pecinta film, seolah mereka menginginkan film-film bermutu seperti itu.

Memang sudah cukup lama perfilman Indonesia mati. Tersingkirkan oleh film-film asing atau memang tidak ada orang yang kreatif lagi?

Matinya dunia perfilman Indonesia semakin tragis ketika diikuti munculnya teknologi video player nan murah meriah dan simple, yaitu VCD. Konon teknologi ini yang membuat gedung-gedung bioskop gulung tikar. Di kota Solo tercatat gedung-gedung bioskop yang cukup ternama seperti Solo Theatre (di area taman Sriwedari) dan Fajar Theatre (di daerah Pasar Gede) tutup. Apalagi bioskop-bioskop kecil seperti Ura Patria (UP) Theatre dan Dhady Theatre (dua-duanya berada di Jalan Slamet Riyadi, sangat strategis untuk sebuah bioskop). Padahal UP Theatre termasuk gedung bioskop di kota Solo yang setia memutar film-film nasional.

Belum lagi Atrium 21 yang berlokasi di Solo Baru sempat digembar-gemborkan sebagai gedung bioskop termegah kedua di Asia Tenggara karena memiliki 8 theatre. Dan menjadi kebanggaan warga Solo yang menyukai bioskop pada awal tahun 1990-an. Sayang, gedung megah itu menjadi korban kerusuhan Mei 1998. Gedung itu habis dilalap api, dan sampai sekarang masih menjadi bangkai.

Nasib serupa dengan Atrium 21 dialami Studio 21 yang memiliki 3 theatre, berlokasi di tempat yang sangat strategis, yaitu di pusat perbelanjaan Singosaren. Ketika pusat perbelanjaan itu juga menjadi korban kerusuhan Mei 1998, Studio 21 sempat mangkrak lama. Namun awal tahun 2000, ketika pusat perbelanjaan Singosaren direnovasi, Studio 21 muncul lagi. Sekarang menjadi satu-satunya pesaing Grand 21.

Saya teringat sewaktu masih SMP (sekitar tahun 80-an) merelakan bersama keluarga berbondong-bondong mendatangi gedung bioskop untuk menonton secara visual film berjudul Saur Sepuh. Bagi remaja jaman sekarang, pasti tidak mengenal film itu.

Kenapa film itu menjadi laris manis? Tak lain dan tak bukan, karena ceritanya diadaptasi dari sandiwara radio yang telah disiarkan secara bersambung. Waktu itu sandiwara radio sangat marak di kota Solo. Belum ada sinetron. Stasiun TV mungkin baru TVRI. Saya ingat sejak SD kelas 6, banyak orang membicarakan cerita Saur Sepuh, terutama petualangan tokoh-tokoh hebatnya seperti Brama Kumbara dan Mantili. Ini berlangsung lama, sampai filmnya beredar ketika saya sudah masuk SMP, radio-radio masih juga menayangkannya sampai Brama Kumbara menjadi raja dan mempunyai keturunan.

Saur Sepuh nyaris tidak beda dengan kasus larisnya AAC. Jika Saur Sepuh laris karena dari cerita radio yang sudah akrab di telinga pendengar, sementara AAC diangkat dari novel laris karya Habiburrahman El-Shirazy. Terus-terang, saya semula juga tidak begitu mengenal novel tersebut. Semula saya mengira novel tersebut terjemahan dari penulis Timur Tengah, karena saat itu maraknya buku-buku islami terjemahan dari negara-negara Timur Tengah. Bahkan ada teman bilang novel itu best-seller se-Asia Tenggara. Saya tidak tertarik membacanya.

Namun ketika tempat kursus bahasa Inggris milik saya secara resmi saya buka untuk umum yang dilengkapi buku-buku yang disewakan, banyak penyewa yang menanyakan buku itu. Terpaksa saya mencarinya. Pas saat itu semua toko buku di wilayah Surakarta kehabisan stok. Yang ada cuma karya penulis yang sama berjudul Ketika Cinta Bertasbih jilid 1 dan 2. Saya tetap berusaha mencari buku Ayat-Ayat Cinta untuk memuaskan para pelanggan. Sempat saya memperoleh buku tersebut tapi baru sadar kalau yang saya beli itu bajakan, dilihat dari kualitas cetak dan harga yang sangat murah serta di mana saya mendapatkannya. Terpaksa. Tapi akhirnya saya juga memperoleh aslinya secara online, meski harus menunggu selama 2 minggu.

Baru setelah itu saya sempatkan membaca. Itu juga demi memuaskan pelanggan yang ingin mengajak bercerita tentang novel tersebut.

Ketika mendengar bahwa AAC mau difilmkan, saya sudah pesimis bahwa filmnya bisa merepresentasikan novelnya. Tulisan Kang Abik (panggilan akrab penulis novel AAC) begitu indah. Pesan-pesan moral begitu kental tersampaikan dalam novel itu. Apakah filmnya bisa seindah novelnya?

Yang menjadi saya tertarik untuk membaca sampai habis novel itu bukan pada intrik-intriknya. Sebenarnya saya penggemar novel thriller. Ketegangan selalu memacu andrenalin saya untuk mengetahui akhir cerita sampai tuntas. Namun saya tidak menemukan ketegangan-ketegangan itu dalam novel AAC. Kenapa saya bisa tertarik? Kalau 2 buku karya Dan Brown, Malaikat & Iblis dan Da Vinci Code, bagi saya, memiliki daya tarik pada ketegangan-ketegangannya sehingga saya cepat menuntaskannya. Demikian juga Cau Bau Kan dan Kerudung Merah Kirmizi (keduanya karya Remy Sylado) yang memikat lewat intrik-intriknya.

Sementara, lagi-lagi bagi saya pribadi, novel AAC terlalu datar. Kang Abik kurang begitu menggigit dalam menggambarkan ketegangan cerita. Namun saya lagi-lagi bertanya: kenapa saya mampu membacanya sampai tuntas? Baru saya menemukan bahwa kehidupan yang diceritakan Kang Abik begitu suci dan indah. Banyak orang modern yang sudah melupakan dan mengarah pada jaman jahiliyah di mana selingkuh sudah menjadi hal biasa dan malah harus (baca: zina), orangtua tega membunuh anak, dan moral-moral bejat lainnya. Akhirnya, saya menganggap bahwa karya Kang Abik itu kontroversial. Kenapa kontroversial? Ya karena sangat bertentangan dengan kehidupan jaman sekarang.

Ini sama halnya dengan saya menyukai buku-buku karya Andrias Harefa (Menjadi Manusia Pembelajar, Sekolah Saja tidak Cukup, dll.) atau buku-buku Robert T. Kiyosaki yang tidak bedanya mengecam mutu sekolah sekarang. Datar dan monoton tapi meledak-ledak menantang!

Agaknya terlalu panjang saya bercerita tentang novel AAC. Akan tetapi semua itu sekedar untuk menggambarkan apresiasi salah satu pembaca AAC. Masih banyak pembaca AAC lainnya yang punya alas an-alasan tersendiri untuk menyukai novel ini. Lalu mereka penasaran ingin melihat versi layar lebarnya. Belum lagi para calon penonton yang mendengar kehebatan novel AAC tapi enggan membacanya (karena tidak suka membaca). Akhirnya, film AAC pun menjadi boom!

Kalau saja sebagian film nasional adalah hasil adaptasi semacam AAC atau Saur Sepuh, maka pastilah akan menyedot penonton lebih banyak. Konon AADC juga diangkat dari novel yang kurang popular. Tapi begitu film beredar, versi novelnya banyak dicari.

Melongok ke luar negeri, film-film hasil adaptasi pun mampu meraup banyak uang. Lihat saja kedahsyatan film Harry Potter yang ber-seri dan trilogi Lord of the Rings. Belum lagi film-film adaptasi komik seperti Spider-man dan Batman.

Apakah kita juga lupa dengan sukses film Gie yang meraih banyak penghargaan di festival film Asia? Bagaimana dengan film Cau Bau Kan yang konon masuk nominasi Academy Awards (ajang festival film dunia) meski tidak lolos?

Mungkin menjadi kabar baik bahwa karya besar Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi akan diangkat ke layar lebar. Pasti nantinya akan meraup penonton lebih banyak daripada film Suster Ngesot atau Terowongan Casablanca. Bila benar-benar sukses, mungkin tetralogi-nya yang lain juga ikut difilmkan. Adakah sineas Indonesia yang mau melanjutkan sukses AAC lewat karya-karya Habiburahman El-Shirazy yang lain? Atau mungkin Gajah Mada-nya Langit Kresna Hariadi dibuat secara kolosal? Sayang sekali, dulu tidak ada sineas yang melirik Supernova-nya Dee (nama samaran Dewi Lestari, salah satu personil RSD (Rida Sita Dewi)) yang juga sempat best-seller. Kenapa juga film Jakarta Undercover (dibintangi Luna Maya) begitu jelek seperti itu? Jauh dari isi bukunya malah. Atau cuma nebeng popularitas doang?

Dengan kesuksesan film-film lokal di negeri sendiri, saya berharap ada sineas Indonesia (paling tidak satu orang) yang bisa tampil di pentas dunia. India bangga dengan M. Night Shyamalan (sukses lewat film The Signs, dibintangi Mel Gibson, dan The Village). Thailand punya Wych Kaosayananda (film Balistics: Ecks vs. Sever, dibintangi Antonio Banderas dan Lucy Liu). Lalu China melalui John Woo (berkibar lewat film-film action-nya macam Hard Target (Jean Claude Van Damme ), Face/Off (John Travolta & Nicholas Cage), MI-2 (Tom Cruise), dll.).

Sempat terdengar kabar bahwa Indonesia nyaris memiliki sineas mendunia. Sukses Rizal Mantovani lewat Jelangkung menarik minat Miramax, produsen film kelas kakap, untuk menggarap sebuah film. Sayang beribu-ribu sayang, apakah itu cuma kabar burung, karena sampai sekarang belum terlihat hasilnya. Malah disayangkan lagi, Mas Rizal ikut-ikutan latah bikin film horror seperti Kuntilanak. Bagi saya, film-film horror Indonesia kurang bermutu. Saya cenderung tidak suka menyebutnya sebagai film horror, melainkan film monster. Kenapa film monster? Lihat aja, hantu-hantu yang ditampilkan tidak beda dengan monster. Berbentuk aneh dan menjijikkan. Tidak beda dengan film Aliens. Namun beda dengan film Jelangkung-nya Mas Rizal yang menggambarkan hantunya secara absurd. Itulah hantu atau setan. Menggoda ke relung jiwa tapi tidak berujud.

Di luar negeri, film horror bagus yang berhubungan dengan hantu/setan yang sangat saya ingat adalah Skeleton Key (2005). Posessed (2000) juga bagus. Keduanya adalah film hantu yang tidak berkesan monster.

Namun demikian, baik-buruknya film-film yang dihasilkan para sineas Indonesia, semuanya turut meramaikan dan membangkitkan gejolak perfilman Indonesia. Era perfilman Indonesia muncul lagi setelah mati selama puluhan tahun.

Tapi akankah semua ini berlangsung seterusnya? Akankah seperti film-film Hollywood yang berhasil memikat saya sampai sekarang sejak jatuh cinta pertama kali pada produknya yang berjudul Superman (1978, Superman 2 – 1980, Superman 3 – 1983, yang dibintangi oleh almarhum Christopher Reeves)? Akankah juga seperti film China yang mulai menghentak pertama kali di Indonesia sejak era Bruce Lee, dan sekarang Jet Lee serta Jackie Chan? Atau film-film India sejak masa muda Amitabh Bachchan atau Mitchun Chakraborty?

Semoga saja begitu.

01 Maret 2008

CATASTROPHE: TEROR DI KAMPUS


Sinopsis: Widi, seorang mahasiswi cantik, tewas di kampusnya. Mayatnya ditemukan di dalam lift dengan kondisi sangat mengenaskan. Korban berikutnya menyusul, yaitu Bu Anita, seorang dosen muda yang cantik dan seksi, yang berpredikat janda. Ia meninggal pada malam menjelang keberangkatannya bertugas di London. Universitas tersebut seperti kena teror. Satu per satu korban jatuh. Umumnya yang diincar si pembunuh adalah wanita cantik dan bertubuh menggairahkan. Apakah Jack the Ripper mengalami reinkarnasi dan bergentayangan di kampus tersebut?Tiara dan gank-nya merasa terancam. Setiap hari mereka harus berhadapan dengan bahaya maut. Namun mereka berusaha keras menghentikan sepak terjang sang pembunuh. Siapa sebenarnya pembunuh psikopat yang telah membuat geger kampus mereka? Apakah pelakunya adalah penjaga malam yang misterius? Apakah hantu kampus terlibat dalam kasus ini? Tiara dan gank-nya ingin menguak misteri ini, walaupun nyawa mereka menjadi taruhannya.
Sudahkah anda membaca karya perdana saya berupa fiksi thriller ini? Jika sudah, mohon kasih komentar ya. Jika belum, download gratis di IDWS melalui link berikut ini:
http://files.indowebster.com/teror_di_kampus_d_heriyanto.html 

26 Februari 2008

Jangan Larang Mereka Membaca Komik

Kalau ada orang yang menganggap bahwa membaca komik adalah kegiatan negatif, maka terkutuklah orang itu! Komik bukanlah sampah. Komik bukanlah buku berkualitas rendah. Komik tidak pernah merusak moral anak.

Ada baiknya memandang sesuatu jangan hanya dari kulitnya saja. Buku tidak bisa dikatakan bermutu hanya karena sampulnya bagus. Buku tidak dilihat berkualitas hanya karena tebal atau tipisnya buku tersebut. Satu-satunya yang membuat sebuah buku berkualitas atau tidak hanyalah pada isinya. Jika isi buku itu berbobot, maksudnya mendidik dan tidak menyesatkan, maka berkualitaslah buku tersebut.

Demikian pula dengan komik. Komik yang bermutu akan berisi pendidikan moral yang baik. Misalnya, komik-komik superhero dari Amerika, seperti Superman, Spiderman, X-Men, dan lain-lain, telah memberikan kontribusi pada anak akan sosok seorang pemberani. Salah satu yang saya ingat, komik Spiderman memberikan pendidikan moral bahwa semakin tinggi kemampuan seseorang, semakin tinggi pula tantangan dalam hidupnya. Yang dimaksud dengan ‘kemampuan’ di sini bisa jadi ‘kepandaian’ atau ‘ketrampilan’. Orang yang pandai atau trampil akan menghadapi banyak tantangan. Misalnya, seorang pengusaha pandai dan trampil akan menghadapi tantangan-tantangan bisnis; seorang guru yang cerdas akan tertantang untuk menaklukkan siswa-siswa yang bodoh untuk dijadikan pintar.

Komik kartun terkenal lainnya, seperti Smurf, memberikan kontribusi unik tentang pentingnya bergotong-royong. Sementara komik Disney juga memiliki sisi pendidikan moral yang unik tentang nilai-nilai psikologi, misalnya hasil negatif dari tindakan angkuh dan tamak. Masih banyak lagi komik dari dataran Amerika dan Eropa yang memiliki nilai moral cukup bagus. Kalau perlu disebutkan, yaitu: Petualangan Tintin, Steven Sterk, Asterix & Obelix, dan masih banyak lagi.

Namun demikian ada pula komik yang tidak bermutu. Beberapa komik manga dari Jepang—tidak perlu saya sebutkan, telah menampilkan keseronokan dengan menampilkan tokoh-tokoh gadis mengenakan rok super-mini. Belum lagi adegan-adegan telanjang lainnya. Beberapa komik dari Jepang itu nyaris tidak memiliki alur cerita yang jelas. Atau mungkin karena bersambung sehingga alur ceritanya seperti telenovela? Lain dengan komik-komik superhero yang kebanyakan dalam bentuk episode. Maksudnya, jika anda membaca komik Superman episode 20, anda tidak perlu khawatir kehilangan alur cerita, karena dalam episode itu ada cerita dan tantangan baru bagi sang tokoh.

Satu contoh komik dari Jepang yang cukup memiliki pendidikan moral yang bagus yaitu Kungfu Boy. Komik lama ini dikemas dengan cukup apik. Alur cerita merujuk pada pengembaraan sang tokoh dalam meningkatkan ketrampilan kungfu-nya. Komik itu menggambarkan betapa beratnya menimba ilmu. Dan tantangan-tantangan yang berat itu harus dihadapi, karena ilmu sangatlah penting dalam kehidupan.

Bagaimana dengan komik Shinchan? Sejauh ini, dalam pandangan saya, komik Shinchan pantas untuk dikonsumsi orangtua, karena di situ digambarkan betapa repotnya mengatasi anak yang hyper-active. Lihat saja, bagaimana Shinchan, sang anak, begitu cerewet dan bertingkah. Otaknya berkembang dengan cepat. Itulah gambaran anak-anak jaman sekarang. Akan tetapi komik itu tidak pantas dikonsumsi anak-anak, karena dimungkinkan akan menambah khasanah kenakalan si anak.

Ingat komik Shinchan, saya jadi teringat kartun The Simpsons. Serial kartun yang pernah ditayangkan di televisi itu pernah dikecam penonton Indonesia karena ditayangkan sore hari. Atas kecaman tersebut, akhirnya film kartun itu pun ditayangkan malam hari di mana anak-anak dimungkinkan sudah tidur dan tidak akan menontonnya. Kenapa dikecam? Film kartun itu sebenarnya cukup bagus dan lucu. Namun film itu hanya pantas dikonsumsi orangtua seperti halnya komik Shinchan. Kenapa? Karena banyak adegan dan kata-kata kotor dalam film itu. Perilaku sang tokoh, Bart Simpson, tidak beda jauh dengan Shinchan, bahkan lebih vulgar. Sementara ayahnya Bart Simpson, Homer Simpson, lebih mengerikan lagi. Tokoh Homer digambarkan sebagai orang yang mudah panik, suka mabuk-mabukan, dan perilaku aneh lainnya. Apakah itu bagus untuk anak-anak?

Oleh karena itu, kita harus melakukan seleksi yang baik terhadap komik yang akan kita baca. Saran untuk penerbit dan pembuat komik, ciptakan komik-komik bermutu. Negara kita pernah memiliki komik-komik bermutu, seperti seri cerita pewayangan Mahabharata dan lain-lain. Kita juga pernah memiliki komik seri silat atau superhero seperti Gundala Putera Petir. Komik-komik tersebut pernah berjaya di tahun ’80-an. Lalu di manakah mereka? Di mana generasi mereka?

Sekarang ini komik di Indonesia sepertinya terpuruk. Banyak komik manga bermunculan di pasaran. Beberapa komik Indonesia lama juga dicoba dikemas dalam bentuk manga, tapi agaknya penjualannya tidak sebagus komik Jepang itu sendiri. Bahkan komik dari Amerika dan Eropa pun mulai tersingkir. Memang, Jepang sedang merajai perkomikan dunia.

Kenyataan ini tidak mengharuskan kita melarang anak-anak membaca komik. Sebagai orangtua atau guru, kita harus mampu memilihkan bacaan-bacaan yang bermutu bagi anak-anak kita. Komik adalah dunia anak-anak. Kebanyakan anak belum mampu menikmati buku-buku teks seperti buku-buku pelajaran mereka. Anak-anak belum bisa dipaksa membaca buku-bukunya Andrias Harefa atau Robert T. Kiyosaki. Dunia anak adalah dunia visualisasi. Oleh karena itu, anak-anak lebih mudah dekat dengan televisi, karena televisi memberikan dunia visualisasi yang sempurna. Jangan sampai anak-anak kita terenggut oleh dunia televisi. Ajaklah mereka mengenal buku. Awalilah dengan komik. Berikanlah komik-komik yang bermutu. Kalaupun mereka menyukai komik-komik yang kurang bermutu, jangan lalu dimarahi. Saya pernah menemukan orangtua yang marah besar ketika melihat anaknya membaca komik. Bahkan dengan nada amarah besar, orangtua itu mengatakan: “Kalau baca komik terus, nanti Papa sobek-sobek komik itu!”

Melarang seseorang, terutama anak, membaca komik adalah sebuah pelanggaran hak asasi manusia. Anak-anak tidak bisa dilarang begitu saja. Bahkan anak sekarang cenderung memiliki sifat pemberontak. Lebih mengerikan lagi, apabila orangtua bersikap seperti di atas, dalam hidup anak akan muncul trauma terhadap buku. Selanjutnya si anak akan selalu menjauhi buku bacaan, karena takut dengan kemarahan orangtuanya. Akhirnya anak tersebut tumbuh tanpa bimbingan buku. Bagaimana jadinya ya?

Apabila si anak menemukan sebuah bacaan yang kurang bermutu, sebagai orangtua, kita harus melakukan pendekatan, bukan memarahinya. Ambil hatinya. Maksudnya, cari situasi di mana si anak merasa senang. Atau temukan waktu ketika si anak sedang asyik membaca komik itu. Dekatilah si anak dengan lembut, hilangkan amarah, kemudian tanyakan isi komik yang sedang dibacanya. Cari tahu sejauh mana si anak memahami isi komik tersebut. Sebelumnya, sebagai orangtua, kita jangan sekedar menilai komik dari penilaian orang lain saja. Ada baiknya kita juga membaca apa yang dibaca si anak. Tidak suka membaca? Nah lho, itu lebih parah lagi! Tidak tahu apa-apa, asal marah saja. Apakah anak diciptakan hanya sebagai tumpuan kemarahan? Apakah orangtua harus selalu di pihak yang benar, sementara anak selalu disalahkan? Ada kasus, ketika seorang ayah menaruh ember berisi air di pintu keluar, lalu si anak lewat dan menabrak ember tersebut sampai tumpah. Siapa yang disalahkan? Sebaliknya ketika si anak menaruh ember berisi air di pintu keluar, sang ayah lewat dan menabrak ember sampai tumpah. Siapa yang disalahkan? Selalu anak yang disalahkan. Benarkah?

Bagaimanapun juga, dengan membaca komik, anak mulai mengenal buku. Komik juga berisi kata-kata. Lewat kata-kata itu, si anak mempelajari bahasa tulis. Komik bisa menjadi titik tolak untuk mengarah pada buku-buku teks. Semua tinggal kita sebagai orangtua dalam mengarahkan minat baca si anak. Jangan pernah mematikan minat baca si anak, karena itu berarti sama saja dengan membunuh masa depannya.

Sebagai anak, membaca komik harus tahu aturan. Waktu belajar jangan digunakan membaca komik. Membaca komik dapat dilakukan di waktu luang, terutama waktu libur sekolah. Membaca komik lebih baik daripada menonton televisi atau bermain PlayStation. Bahkan lebih asyik lho!

Sudahkah anak anda mengenal komik? Selamat membaca komik! (dh)

25 Februari 2008

Cerpen: Selingkuh

versi lengkap (tanpa edit)
dimuat di Harian SoloPos, Minggu, 02 Desember 2007
dengan nama samaran: Serpihan DH.

“Cuma sekali aja, Mas,” suara manja itu menggelitik telingaku.
Ingin rasanya kembali menggeluti tubuh mungil nan indah itu. Namun entah kenapa, tidak seperti biasanya, ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku. Keinginan untuk pulang.
Dengan agak terburu, kukenakan semua pakaianku yang tadi dilucuti perempuan manis yang sekarang terbaring manja di atas ranjang. Tubuhnya yang tanpa sehelai kain menggoda pikiranku. Membawa diriku dalam kebimbangan. Antara pulang dan kembali dalam dekapannya.
Tapi lagi-lagi entah kenapa hatiku bersikeras ingin pulang. Bersenang-senang dengan perempuan itu bisa kulakukan kapan-kapan lagi, karena sekarang ini pun bukan kali pertamanya aku bersama dia. Besok atau lusa masih bisa diulang dan terus diulang. Lain halnya dengan perasaanku sekarang yang menginginkan untuk pulang. Perasaan ini begitu meledak-ledak. Padahal belum ada seminggu aku meninggalkan rumah. Biasanya dua minggu, bahkan terkadang sampai satu bulan, aku tidak pulang. Asal sudah menyampaikan alasan pada orang rumah, semuanya beres.
“Tumben kok kesusu, Mas. Susu-ku kan lebih enak,” Perempuan itu bangkit dari ranjang. Ia menyeringai menggoda.
Aku cuma tersenyum. Mengancingkan satu kancing kemeja yang tersisa sambil mengecup puting susunya. Ia tertawa kecil.
“Bye, honey! See you!” Aku segera mengenakan sepatu tanpa berkaos kaki, meraih tas berisi laptop, lalu keluar dari kamar hotel menuju ke tempat parkir.
Sudah hampir satu tahun aku dekat dengan perempuan itu. Seperti perempuan-perempuan lain yang pernah sangat dekat denganku, dia juga mahasiswiku. Biasanya memang hampir tiap tahun aku memiliki mahasiswi spesial yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Kedekatan dalam konsultasi tugas akhir seringkali menggoda jiwa petualangku, karena memang mereka adalah apa yang sering disebut masyarakat sebagai ayam kampus.
Namun perempuan yang satu ini agaknya lain. Kedekatanku dengannya bisa dikatakan cukup lama. Biasanya ketika masa konsultasi selesai, hubungan pun usai. Yang ini masih berlangsung hingga sekarang. Sampai dia lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan terkenal.
Aku masa bodoh saja. Selama dia memiliki pengertian untuk tidak minta dinikahi, aku akan selalu bersedia menemaninya. Atau mungkin suatu ketika dia ingin mengakhiri hubungan, aku juga telah siap untuk menghadapinya. Toh semua ini bagiku hanyalah just for fun doang. Tidak lebih.
Tak ada orang dekatku yang mengetahui petualanganku ini. Hanya beberapa yang mencurigaiku, namun kecurigaannya tidak pernah bisa terbukti selama ini. Termasuk istriku sendiri. Lagipula banyak orang yang tidak peduli dengan petualanganku ini. Aku tahu ini adalah selingkuh. Perbuatan yang curang dan khianat. Tapi sekarang memang baru trend. Laki-laki kalau belum memiliki pasangan lebih dari satu, belum bisa disebut sebagai lelaki sejati. Lelaki harus menjadi simbol dari harta, tahta dan wanita. Dan ketiganya itu sudah kumiliki sekarang. Harta apa yang belum kumiliki. Rumah, mobil, penghasilan tinggi, apalagi? Jabatan sebagai pembantu dekan adalah tahta bagiku yang belum mencapai usia 40 tahun. Jabatan dekan atau bahkan rektor bukan mustahil aku dapatkan kelak di kemudian hari, karena aku termasuk salah satu dosen yang pantas diperhitungkan secara akademis untuk jabatan itu. Nah, sekarang tinggal wanita untuk melengkapi kesempurnaan hidupku di dunia. Sebagai formalitas hidup, aku memiliki istri yang sah. Widi, Meila, Ratna dan sekarang ini Tika adalah gundik-gundikku yang telah membuatku lebih sempurna.
Semua itu menjadi kebanggaanku sebagai manusia. Aku menjadi lebih percaya diri. Aku merasa sebagai raja diraja yang akan hidup ribuan tahun lamanya.
Namun saat ini semua perasaan itu terganggu. Semenjak istriku mendapatkan kedudukan baru di tempat kerjanya sebagai manajer pemasaran, aku merasa gundah setiap kali meninggalkan rumah. Aku pun seringkali membuntutinya ketika dia berangkat kerja. Dulu sebelum menjadi manajer pemasaran, aku yang selalu mengantarnya ke kantor. Tapi sekarang dia sudah mendapatkan fasilitas sopir pribadi. Sang sopir itulah yang mulai selalu mengganggu pikiranku.
Harusnya aku tak perlu curiga. Begitu bodohnya aku mengira istriku selingkuh dengan sopir perusahaan. Apa yang diharapkan? Seorang sopir perusahaan punya penghasilan berapa? Sejauh mana masa depannya jika dibandingkan dengan aku?
Tapi entah kenapa, meski aku sudah menenangkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan itu, perasaan ini tetap saja gundah.
Aku memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Pikiran dan perasaan yang resah membuat mobilku beberapa kali hendak menabrak motor atau mobil lain yang kulalui.
Tiba di perempatan jalan yang traffic light-nya menyala merah, suara decit dari rem yang kurem secara mendadak mengejutkan beberapa orang yang ada di sekitar perempatan itu.
Aku menghitung waktu sembari pandangan mata tidak lepas dari lampu lalu lintas.
Ketika lampu menyala hijau, kembali aku menekan pedal gas dalam-dalam. Mendadak mobilku laksana meloncat menerobos perempatan.
Tiba-tiba sepasang mataku dikejutkan oleh sebuah bis yang nyelonong dari arah sebelah kiri dengan kecepatan tinggi. Aku sempat berteriak. Yang kusadari, aku berada di sisi jalan lain, lalu melangkahkan kaki dengan cepat melanjutkan perjalanananku yang tidak jauh lagi. Melupakan kejadian itu.
Tidak lama kemudian aku sampai di rumah. Tepat di dalam kamar tidur, aku nyaris menjerit melihat pemandangan di atas ranjang. Seorang pria telanjang berada di atas tubuh istriku yang juga telanjang. Dan nampak sekali istriku menikmatinya.
Aku mendekati pria itu dari belakang. Memukulnya secara tiba-tiba. Tapi tidak kena. Sekali lagi. Tidak kena. Berkali-kali. Tetap saja tidak mengenai tubuhnya.
Kemudian tubuh pria itu berguling ke samping dengan wajah dan senyum penuh kepuasan. Begitu juga istriku. Perempuan itu pun bergayut di dada si pria.
Hatiku memanas. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Berkali-kali aku mencoba memukul pria itu, tapi tidak pernah mengena. Aku pun mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah pada diriku. Ini pasti disebabkan oleh kejadian di perempatan tadi.
Aku hendak kembali ke perempatan di mana mobilku tertabrak bis. Akan tetapi telingaku sempat mendengar suara lembut istriku.
“Aku belum memberitahu suamiku kalau akhirnya aku bisa memiliki janin dalam perutku. Berkali-kali dia menyalahkan diriku yang tidak bisa memberi keturunan. Ingin sekali aku memberitahunya, tapi dia sangat sibuk dengan seminar-seminarnya.“
Aku betul-betul terpukul mendengarnya. Namun aku tetap melangkah dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Sesampai di perempatan yang aku tuju, aku semakin tak kuasa menahan jeritan. Aku berteriak sekeras-kerasnya. Tapi tidak ada satupun dari orang-orang yang berkerumun di tempat itu menoleh ke arahku. Perhatian semua orang tertuju pada mobil sedanku yang remuk berantakan, sementara beberapa orang sibuk mengeluarkan sosok bersimbah darah di dalam mobil. Itu adalah tubuhku.
Lalu aku…..