31 Maret 2008

AYAT-AYAT FITNA

Agak terlambat bagi saya mendengar film yang menggemparkan dunia, terutama umat Islam. Film yang berdurasi cuma sekitar 15 menit itu berjudul FITNA.

Sebelumnya saya tidak tahu kalau film tersebut akan ditayangkan secara online di internet. Gratis. Waktu itu perhatian saya tertuju pada santernya berita suksesnya film Ayat-Ayat Cinta. Begitu saya tahu, Fitna ternyata ada di internet, saya pun mengaduk-aduk dunia maya untuk mencarinya. Namun sayang, situs utama penayang film ini, yaitu LeakLive.com telah dihapus dalam servernya. Beruntung YouTube masih menyisakan sebagian.

Terus-terang belum tuntas saya menonton film tersebut, karena entah kenapa pada pertengahan film yang saya tonton terputus begitu saja. Beberapa kali saya ulang, tetap saja terputus pada bagian itu. Oleh karenanya, dalam tulisan ini, saya sekedar menunjukkan beberapa ayat yang dikutip dalam film Fitna dan dibandingkan dengan terjemahan dalam kitab suci Al Quran yang saya miliki, yaitu terbitan UII Press, 2003.

Ayat Pertama:
Surat 8 (Al Anfaal), ayat 60

Versi film Fitna:
Prepare to destroy them with all force
terrorise Allah's enemy and your enemy


Versi kitab suci Al Quran, lengkap 1 ayat:
Untuk menghadapi mereka siapkanlah segala kemampuan,
Dari pasukan kuda yang ditambat,
Dengannya kamu mampu menggetarkan musuh Allah dan musuh kamu,
Serta kelompok lain yang tidak kamu ketahui, tetapi Allah mengetahui.
Apa saja yang kamu belanjakan di jalan Allah,
Niscaya akan dibalas secara sempurna, sedang kamu tidak akan dirugikan.

Ayat Kedua
Surat 4 (An Nisaa’) ayat 56

Versi film Fitna:
Those who are disbelievers will be burned in fire
and when their skin is crispy like a turkey's
we will replace it with another skin
so that they will know their punishment
Allah is great and wise

Versi kitab suci Al Quran, lengkap 1 ayat:
Mereka yang kafir kepada ayat Kami akan Kami masukkan ke neraka.
Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain,
Agar mereka merasakan azab itu.
Sungguh Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Ayat Ketiga
Surat 47 ayat 4

Versi film Fitna:
When you have an encounter with a disbeliever
cut their throats with a sword and spill their blood


Versi kitab suci Al Quran, lengkap 1 ayat:
Kalau kamu berjumpa orang-orang kafir dalam peperangan, potonglah batang leher mereka,
Kemudian kamu dapat membebaskan secara murni atau dengan tebusan,
Sampai peperangan benar-benar berhenti.
Demikian sekiranya Allah menghendaki, pasti Ia berkuasa membinasakan mereka,
Tetapi Allah akan menguji sebagian kamu dengan yang lain.
Mereka yang terbunuh dalam menegakkan agama Allah,
Dia tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.

Selintas Komentar
Sengaja saya tidak menerjemahkan bahasa Inggrisnya. Anda yang mahir dalam berbahasa Inggris akan melihat secara jelas penyesatan makna yang terkandung dalam versi Inggris dan Indonesianya. Sayang sekali saya tidak menguasai bahasa Belanda. Padahal film itu sebenarnya dibuat dalam bahasa Belanda.

Untuk lebih jelas memahami makna yang terkandung dalam setiap ayat yang dikutip, silakan buka kitab suci Al Quran, lalu bacalah ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Misalnya pada kutipan Ayat Pertama, bacalah surat Al Anfaal ayat 50 (dan atau sebelumnya) sampai dengan ayat 70 (dan atau sesudahnya).

Bagi saya, Greet Wilders, si pembuat film, telah mengemasnya terlalu sembrono. Jelas 100% ia tidak memahami apa yang dikutip dalam kitab suci Al Quran, sehingga salah menafsirkan maknanya. Dan sepertinya memang ini bukan film serius, melainkan film main-main saja, sebagaimana sama dengan kebanyakan film yang ada dalam YouTube.

Lewat film itu, Greet Wilders tidak membukakan mata dunia, tetapi malah mencari musuh. Sama halnya gambar kartun Nabi Muhammad yang ditampilkan pada pembuka film. Wilders tidak tahu kalau kasus gambar kartun tersebut dikarenakan umat Islam melarang keras mewujudkan Nabi mereka dalam wujud gambar atau patung. Sepertinya memang Wilders mau cari penyakit!

Bagi anda yang sudah berhasil men-download film Fitna, selamat menikmati film tersebut. Tapi apakah pernah terlintas di benak anda, ada ajaran agama yang menghalalkan kekerasan secara membabi-buta? Kalau menurut saya, semua agama mengajarkan kasih sayang, baik secara vertikal maupun horizontal. Hablum minannaas, hablum minnallah. Kalaupun ada sekelompok orang yang mengaku dari ajaran agama tertentu membuat keonaran tanpa suatu alasan yang jelas, Tuhan akan melaknatnya. Laknatullah! Jika anda pernah membaca sejarah Nabi Muhammad, sang pembawa Islam, salah satu ajaran beliau yaitu bertoleransi antar umat beragama. Siapa yang diperangi Muhammad kala itu? Orang-orang kafir! Siapakah orang-orang kafir itu? Yang dimaksud orang-orang kafir adalah orang-orang yang menentang ajaran Nabi Muhammad. Orang-orang yang melarang umat Nabi beribadah sesuai dengan ajaran beliau. Orang-orang yang menyiksa orang lain demi meninggalkan ajaran Nabi. Orang-orang yang iri dan dengki terhadap Nabi. Itulah orang-orang kafir! Jadi TIDAK semata-mata orang non-muslim disebut kafir.

Akhir kata, jadilah orang beragama yang baik. Tidak ada gunanya memiliki rasa iri dan dengki terhadap agama lain. Tuhan akan melaknat manusia yang memiliki rasa iri dan dengki. Jangan sampai tersesat oleh Ayat-Ayat Fitna. [dh]

19 Maret 2008

MOSAIK MOZART

Sinopsis: Harmoni, seorang duda dengan satu anak. Istrinya meninggal setelah melahirkan Mozi si kecil. Kesalahan dalam proses kelahiran harus mengorbankan nyawa Intan, istrinya. Pikiran semacam inilah yang membuat Harmoni bersikukuh tidak segera mencari pengganti ibu bagi anaknya.
Masuknya Dona dalam kehidupan Har (panggilan akrab Harmoni) membuat segalanya berubah. Menikmati kehidupan yang pernah dialami bersama istrinya rupanya harus dibayar mahal dengan peristiwa-peristiwa tragis yang harus dihadapinya. Hilangnya Endah sang adik ipar dari rumah sakit jiwa, kematian Nita sang babysitter, kebakaran sekolah musiknya, disusul dengan kematian ibu mertuanya.
Mengapa peristiwa-peristiwa tragis mendatangi hidupnya sesaat setelah ia menjalin hubungan dengan Dona? Adakah yang menaruh dendam kepadanya? Dan siapakah Dona sesungguhnya? Belum habis berpikir, Har mendapati Mozi, bayi mungilnya hilang!


15 Maret 2008

STOP HIDUP KAYA-RAYA!

Tulisan ini saya buat setelah beberapa saat merenungi sebuah buku berjudul “Mengapa Muhammad tidak Memilih Kaya-Raya” oleh Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah, diterbitkan oleh Qudsi Media (qudsi_media@yahoo.co.id).

Jujur baru sekali saya membaca buku itu, namun efeknya seolah menghantam pikiran sehingga membawa kesadaran penuh akan apa arti hidup sebenarnya di dunia ini. Intelektualitas (baca: kedewasaan berpengetahuan) memang telah menyadari arti dari hidup. Namun seringkali nafsu, cita-cita dan dorongan dari luar menghalalkan segalanya sehingga membutakan kesadaran yang sudah ada. Terutama hidup di jaman modern ini.

Banyak orang jaman sekarang keblinger dengan gemerlap duniawi. Banyak orang menuntut dan memaksa dirinya sendiri untuk menikmati dunia ini sepuas-puasnya sampai tanpa batas. Kesenangan yang disadari hanya sesaat dipoles menjadi lebih hakiki. Pembenaran terhadap kesalahan adalah hal yang lazim.

Buku itu memang menunjukkan sikap hidup Rasulullah Nabi Muhammad saw. yang menjadi tokoh bagi umat muslim. Namun saya 100% yakin bahwa umat beragama lain akan meng-amin-i sikap semacam itu. Secara mendasar tidak beda jauh dengan sang Kristus atau sang Buddha. Esensinya hanya satu, yaitu: kesederhanaan.

Akan tetapi banyak orang sekarang ini yang mengaku Islam, Kristen, Katolik, Hindu maupun Buddha, dan agama lainnya, tapi melupakan (atau memang tidak tahu) pribadi sang pembawa agama itu. Orang Islam lebih mengidolakan musisi/penyanyi/bintang sinetron terkenal ketimbang Muhammad. Orang Kristen/Katolik pun demikian, lebih mengenal pribadi bintang film/sinetron dibanding sang Juru Selamat, Yesus Kristus. Agama hanya sekedar label bermasyarakat.

Menyimak sejarah hidup dua tokoh terbesar di dunia itu (setuju tidak kalau Nabi Muhammad & Yesus Kristus adalah orang-orang terbesar dalam sejarah dunia?), salah satu hal yang sangat terpatri dalam hati saya adalah sikap begitu sederhananya. Padahal keduanya kalau mau kaya-raya pada jaman itu, bisa saja. Muhammad menikahi janda kaya-raya, tapi beliau tidak pernah memanfaatkan harta istri beliau itu untuk kemewahan duniawi. Bahkan istri beliau, Khadijah, meninggal dalam keadaan miskin tanpa harta. Ke mana larinya harta Khadijah? Tak lain dan tak bukan adalah di jalan Tuhan.

Saya bukan pendeta, bukan ustadz apalagi ulama. Saya hanya orang biasa yang haus akan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu saya tidak bermaksud memberi ceramah/khotbah layaknya di tempat-tempat ibadah. Saya hanya sekedar berbagi pengetahuan dan pemikiran dengan para pembaca ketika melihat fenomena dunia yang di beberapa tempat sudah terlihat kemewahan dan kemegahannya ini.

Saya seringkali merenung ketika bisa merasakan nyaman ketika berada dalam mobil seharga cuma 50 jutaan, sementara banyak orang miskin berjejalan, berjubel-jubel dalam angkutan umum dengan bau berjuta rasa. Muncul rasa iba saya saat mengetik seperti ini dengan menggunakan notebook yang dibeli dengan harga hampir 10 juta, kemudian mengingat berita-berita yang barusan saya baca lewat SoloPos atau KOMPAS tentang kelaparan yang menimpa sebagian daerah di negara kita (terutama tragedi Lumpur Lapindo yang sampai sekarang masih kedengaran sangat tragis).

Saya memang sensitif. Tapi sampai saat ini saya tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara pemerintah sekarang hanya memikirkan perutnya sendiri dengan tidak mempedulikan nasib rakyat. Terlebih lagi membaca artikel di Harian KOMPAS pada hari Senin, 10 Maret 2008 halaman 37. Aritikel itu menunjukkan bahwa pemerintah kita sungguh brutal membiarkan rakyatnya sengsara. Sesuai dengan judul artikel yang berhubungan dengan kelaparan itu, yakni: “Peristiwa Brutal yang Dianggap ‘Biasa’”.

Memang sih ada penanganan-penanganan yang dilakukan pemerintah kita terhadap kelaparan di negeri ini. Namun, seperti yang ditulis dalam artikel itu, penanganannya bersifat sementara. Alhasil, kelaparan pun sering terjadi. Tambah lagi, harga sembako yang makin gila-gilaan, kelangkaan BBM, kenaikan tarif listrik dan air minum. Semua itu membunuh rakyat kecil.

Melihat fenomena semacam ini, perlukah kita bermobil mewah hanya sekedar untuk pamer? Haruskah kita mengganti handphone berharga mahal, sementara kita cuma butuh untuk nelpon dan SMS doang? Pantaskah kita menghias rumah dengan barang-barang mahal, agar dipandang berada oleh lingkungan kita?

Saya bukan penganut anti-orangkaya. Saya termasuk orang berada. Tapi juga bukan termasuk orang dermawan L. Saya sekedar sosok makhluk Tuhan yang sedang belajar memahami lebih mendalam esensi hidup. Bagi saya, hidup adalah mati. Barangsiapa yang ingat akan mati, insya Allah bisa memahami hidup ini. Seperti Umar bin Khattabh r.a. berkata bahwa orang yang cerdas adalah orang yang selalu ingat akan kematian.

Kemewahan bukan segalanya jika hanya dipamerkan. Kaya akan harta akan lebih bermanfaat jika dimanfaatkan di jalan Tuhan. Tapi bukan berarti membuat kaya pendeta, ustadz, ulama, atau pemuka agama tertentu. Bukan juga berarti untuk memegahkan tempat ibadah sehingga menimbulkan kesombongan yang begitu besar.

Memanfaatkan di jalan Tuhan berarti ikut berpartisipasi baik langsung maupun tidak langsung untuk kemaslahatan umat. Ikut serta memikirkan sesama, bukan yang segolongan. Mengembangkan kemampuan berempati daripada nafsu. Banyak belajar demi menimba ilmu pengetahuan secara seimbang, baik untuk dunia maupun akhirat.

Jika setiap warga negara Indonesia berwawasan luas, dan memiliki empati yang baik, niscaya belenggu keterpurukan akan berangsur-angsur sirna. Namun sebaliknya, jika pejabat-pejabat pemerintahannya korup, dan masyarakatnya bodoh serta hanya mengumbar nafsu, tidak lama lagi negara kita pun akan tamat riwayatnya.

Sangat tidak seimbang, ketika terlihat banyak mobil mewah berseliweran di jalan raya, gedung-gedung bertingkat nan megah menjulang tinggi, sementara masih banyak saudara-saudara kita yang dilanda musibah kelaparan.

Belajarlah untuk tidak hidup kaya-raya. Stop bermewah-mewahan. Tanamkan kesederhanaan dalam diri kita masing-masing, termasuk orang-orang terdekat anda. Belanjakanlah harta secara bijaksana. Jadilah tauladan yang baik dan benar bagi sesama. Jangan seperti para pejabat PLN yang mengembar-gemborkan untuk hemat listrik, sementara mereka sendiri boros listrik. Tidak juga seperti para pejabat Pertamina yang meminta rakyat untuk hemat BBM, sementara kebutuhan BBM untuk mereka gila-gilaan. Jikalau anda menjual produk bermerk A, maka pakailah selalu produk bermerek A tersebut. Jangan memaksa orang lain untuk memakan sesuatu yang anda sendiri tidak mau memakannya. Jangan suka mencubit orang lain jika anda sendiri tidak mau dicubit.

Salam sederhana!

11 Maret 2008

KEBANGKITAN FILM NASIONAL (SAMPAI KAPANKAH?)

Tulisan ini saya buat setelah mendengar dan melihat kabar penayangan perdana film Ayat-Ayat Cinta (AAC) pada tanggal 28 Februari 2008 serentak di seluruh Indonesia. Tentunya yang saya pantau baru di wilayah kota Surakarta di mana saya tinggal, terutama di Grand 21 Solo Grand Mall (SGM) yang menjadi barometer sinema di kota yang punya nama lain Solo ini.

Enam tahun sudah sejak film Ada Apa dengan Cinta (AADC - 2002) menghipnotis para pecinta film untuk rela antri di loket tiket gedung bioskop guna melihat dengan mata kepala sendiri kabar bagusnya cerita dan akting para pemerannya. Mungkin pertama kali yang menjadi daya tarik film itu adalah pemeran-pemerannya. Semua orang mengakui bahwa Nicholas Saputro cakep. Begitu juga Dian Sastro. Promosi juga begitu gencarnya lewat media massa atau elektronik yang menyatakan bahwa akting mereka juga luar biasa. Siapa yang tidak penasaran?

Belum lagi para pecinta film di negara kita nampaknya haus akan film-film nasional. Setelah film Petualangan Sherina yang juga memikat sebagian pecinta film, seolah mereka menginginkan film-film bermutu seperti itu.

Memang sudah cukup lama perfilman Indonesia mati. Tersingkirkan oleh film-film asing atau memang tidak ada orang yang kreatif lagi?

Matinya dunia perfilman Indonesia semakin tragis ketika diikuti munculnya teknologi video player nan murah meriah dan simple, yaitu VCD. Konon teknologi ini yang membuat gedung-gedung bioskop gulung tikar. Di kota Solo tercatat gedung-gedung bioskop yang cukup ternama seperti Solo Theatre (di area taman Sriwedari) dan Fajar Theatre (di daerah Pasar Gede) tutup. Apalagi bioskop-bioskop kecil seperti Ura Patria (UP) Theatre dan Dhady Theatre (dua-duanya berada di Jalan Slamet Riyadi, sangat strategis untuk sebuah bioskop). Padahal UP Theatre termasuk gedung bioskop di kota Solo yang setia memutar film-film nasional.

Belum lagi Atrium 21 yang berlokasi di Solo Baru sempat digembar-gemborkan sebagai gedung bioskop termegah kedua di Asia Tenggara karena memiliki 8 theatre. Dan menjadi kebanggaan warga Solo yang menyukai bioskop pada awal tahun 1990-an. Sayang, gedung megah itu menjadi korban kerusuhan Mei 1998. Gedung itu habis dilalap api, dan sampai sekarang masih menjadi bangkai.

Nasib serupa dengan Atrium 21 dialami Studio 21 yang memiliki 3 theatre, berlokasi di tempat yang sangat strategis, yaitu di pusat perbelanjaan Singosaren. Ketika pusat perbelanjaan itu juga menjadi korban kerusuhan Mei 1998, Studio 21 sempat mangkrak lama. Namun awal tahun 2000, ketika pusat perbelanjaan Singosaren direnovasi, Studio 21 muncul lagi. Sekarang menjadi satu-satunya pesaing Grand 21.

Saya teringat sewaktu masih SMP (sekitar tahun 80-an) merelakan bersama keluarga berbondong-bondong mendatangi gedung bioskop untuk menonton secara visual film berjudul Saur Sepuh. Bagi remaja jaman sekarang, pasti tidak mengenal film itu.

Kenapa film itu menjadi laris manis? Tak lain dan tak bukan, karena ceritanya diadaptasi dari sandiwara radio yang telah disiarkan secara bersambung. Waktu itu sandiwara radio sangat marak di kota Solo. Belum ada sinetron. Stasiun TV mungkin baru TVRI. Saya ingat sejak SD kelas 6, banyak orang membicarakan cerita Saur Sepuh, terutama petualangan tokoh-tokoh hebatnya seperti Brama Kumbara dan Mantili. Ini berlangsung lama, sampai filmnya beredar ketika saya sudah masuk SMP, radio-radio masih juga menayangkannya sampai Brama Kumbara menjadi raja dan mempunyai keturunan.

Saur Sepuh nyaris tidak beda dengan kasus larisnya AAC. Jika Saur Sepuh laris karena dari cerita radio yang sudah akrab di telinga pendengar, sementara AAC diangkat dari novel laris karya Habiburrahman El-Shirazy. Terus-terang, saya semula juga tidak begitu mengenal novel tersebut. Semula saya mengira novel tersebut terjemahan dari penulis Timur Tengah, karena saat itu maraknya buku-buku islami terjemahan dari negara-negara Timur Tengah. Bahkan ada teman bilang novel itu best-seller se-Asia Tenggara. Saya tidak tertarik membacanya.

Namun ketika tempat kursus bahasa Inggris milik saya secara resmi saya buka untuk umum yang dilengkapi buku-buku yang disewakan, banyak penyewa yang menanyakan buku itu. Terpaksa saya mencarinya. Pas saat itu semua toko buku di wilayah Surakarta kehabisan stok. Yang ada cuma karya penulis yang sama berjudul Ketika Cinta Bertasbih jilid 1 dan 2. Saya tetap berusaha mencari buku Ayat-Ayat Cinta untuk memuaskan para pelanggan. Sempat saya memperoleh buku tersebut tapi baru sadar kalau yang saya beli itu bajakan, dilihat dari kualitas cetak dan harga yang sangat murah serta di mana saya mendapatkannya. Terpaksa. Tapi akhirnya saya juga memperoleh aslinya secara online, meski harus menunggu selama 2 minggu.

Baru setelah itu saya sempatkan membaca. Itu juga demi memuaskan pelanggan yang ingin mengajak bercerita tentang novel tersebut.

Ketika mendengar bahwa AAC mau difilmkan, saya sudah pesimis bahwa filmnya bisa merepresentasikan novelnya. Tulisan Kang Abik (panggilan akrab penulis novel AAC) begitu indah. Pesan-pesan moral begitu kental tersampaikan dalam novel itu. Apakah filmnya bisa seindah novelnya?

Yang menjadi saya tertarik untuk membaca sampai habis novel itu bukan pada intrik-intriknya. Sebenarnya saya penggemar novel thriller. Ketegangan selalu memacu andrenalin saya untuk mengetahui akhir cerita sampai tuntas. Namun saya tidak menemukan ketegangan-ketegangan itu dalam novel AAC. Kenapa saya bisa tertarik? Kalau 2 buku karya Dan Brown, Malaikat & Iblis dan Da Vinci Code, bagi saya, memiliki daya tarik pada ketegangan-ketegangannya sehingga saya cepat menuntaskannya. Demikian juga Cau Bau Kan dan Kerudung Merah Kirmizi (keduanya karya Remy Sylado) yang memikat lewat intrik-intriknya.

Sementara, lagi-lagi bagi saya pribadi, novel AAC terlalu datar. Kang Abik kurang begitu menggigit dalam menggambarkan ketegangan cerita. Namun saya lagi-lagi bertanya: kenapa saya mampu membacanya sampai tuntas? Baru saya menemukan bahwa kehidupan yang diceritakan Kang Abik begitu suci dan indah. Banyak orang modern yang sudah melupakan dan mengarah pada jaman jahiliyah di mana selingkuh sudah menjadi hal biasa dan malah harus (baca: zina), orangtua tega membunuh anak, dan moral-moral bejat lainnya. Akhirnya, saya menganggap bahwa karya Kang Abik itu kontroversial. Kenapa kontroversial? Ya karena sangat bertentangan dengan kehidupan jaman sekarang.

Ini sama halnya dengan saya menyukai buku-buku karya Andrias Harefa (Menjadi Manusia Pembelajar, Sekolah Saja tidak Cukup, dll.) atau buku-buku Robert T. Kiyosaki yang tidak bedanya mengecam mutu sekolah sekarang. Datar dan monoton tapi meledak-ledak menantang!

Agaknya terlalu panjang saya bercerita tentang novel AAC. Akan tetapi semua itu sekedar untuk menggambarkan apresiasi salah satu pembaca AAC. Masih banyak pembaca AAC lainnya yang punya alas an-alasan tersendiri untuk menyukai novel ini. Lalu mereka penasaran ingin melihat versi layar lebarnya. Belum lagi para calon penonton yang mendengar kehebatan novel AAC tapi enggan membacanya (karena tidak suka membaca). Akhirnya, film AAC pun menjadi boom!

Kalau saja sebagian film nasional adalah hasil adaptasi semacam AAC atau Saur Sepuh, maka pastilah akan menyedot penonton lebih banyak. Konon AADC juga diangkat dari novel yang kurang popular. Tapi begitu film beredar, versi novelnya banyak dicari.

Melongok ke luar negeri, film-film hasil adaptasi pun mampu meraup banyak uang. Lihat saja kedahsyatan film Harry Potter yang ber-seri dan trilogi Lord of the Rings. Belum lagi film-film adaptasi komik seperti Spider-man dan Batman.

Apakah kita juga lupa dengan sukses film Gie yang meraih banyak penghargaan di festival film Asia? Bagaimana dengan film Cau Bau Kan yang konon masuk nominasi Academy Awards (ajang festival film dunia) meski tidak lolos?

Mungkin menjadi kabar baik bahwa karya besar Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi akan diangkat ke layar lebar. Pasti nantinya akan meraup penonton lebih banyak daripada film Suster Ngesot atau Terowongan Casablanca. Bila benar-benar sukses, mungkin tetralogi-nya yang lain juga ikut difilmkan. Adakah sineas Indonesia yang mau melanjutkan sukses AAC lewat karya-karya Habiburahman El-Shirazy yang lain? Atau mungkin Gajah Mada-nya Langit Kresna Hariadi dibuat secara kolosal? Sayang sekali, dulu tidak ada sineas yang melirik Supernova-nya Dee (nama samaran Dewi Lestari, salah satu personil RSD (Rida Sita Dewi)) yang juga sempat best-seller. Kenapa juga film Jakarta Undercover (dibintangi Luna Maya) begitu jelek seperti itu? Jauh dari isi bukunya malah. Atau cuma nebeng popularitas doang?

Dengan kesuksesan film-film lokal di negeri sendiri, saya berharap ada sineas Indonesia (paling tidak satu orang) yang bisa tampil di pentas dunia. India bangga dengan M. Night Shyamalan (sukses lewat film The Signs, dibintangi Mel Gibson, dan The Village). Thailand punya Wych Kaosayananda (film Balistics: Ecks vs. Sever, dibintangi Antonio Banderas dan Lucy Liu). Lalu China melalui John Woo (berkibar lewat film-film action-nya macam Hard Target (Jean Claude Van Damme ), Face/Off (John Travolta & Nicholas Cage), MI-2 (Tom Cruise), dll.).

Sempat terdengar kabar bahwa Indonesia nyaris memiliki sineas mendunia. Sukses Rizal Mantovani lewat Jelangkung menarik minat Miramax, produsen film kelas kakap, untuk menggarap sebuah film. Sayang beribu-ribu sayang, apakah itu cuma kabar burung, karena sampai sekarang belum terlihat hasilnya. Malah disayangkan lagi, Mas Rizal ikut-ikutan latah bikin film horror seperti Kuntilanak. Bagi saya, film-film horror Indonesia kurang bermutu. Saya cenderung tidak suka menyebutnya sebagai film horror, melainkan film monster. Kenapa film monster? Lihat aja, hantu-hantu yang ditampilkan tidak beda dengan monster. Berbentuk aneh dan menjijikkan. Tidak beda dengan film Aliens. Namun beda dengan film Jelangkung-nya Mas Rizal yang menggambarkan hantunya secara absurd. Itulah hantu atau setan. Menggoda ke relung jiwa tapi tidak berujud.

Di luar negeri, film horror bagus yang berhubungan dengan hantu/setan yang sangat saya ingat adalah Skeleton Key (2005). Posessed (2000) juga bagus. Keduanya adalah film hantu yang tidak berkesan monster.

Namun demikian, baik-buruknya film-film yang dihasilkan para sineas Indonesia, semuanya turut meramaikan dan membangkitkan gejolak perfilman Indonesia. Era perfilman Indonesia muncul lagi setelah mati selama puluhan tahun.

Tapi akankah semua ini berlangsung seterusnya? Akankah seperti film-film Hollywood yang berhasil memikat saya sampai sekarang sejak jatuh cinta pertama kali pada produknya yang berjudul Superman (1978, Superman 2 – 1980, Superman 3 – 1983, yang dibintangi oleh almarhum Christopher Reeves)? Akankah juga seperti film China yang mulai menghentak pertama kali di Indonesia sejak era Bruce Lee, dan sekarang Jet Lee serta Jackie Chan? Atau film-film India sejak masa muda Amitabh Bachchan atau Mitchun Chakraborty?

Semoga saja begitu.

01 Maret 2008

CATASTROPHE: TEROR DI KAMPUS


Sinopsis: Widi, seorang mahasiswi cantik, tewas di kampusnya. Mayatnya ditemukan di dalam lift dengan kondisi sangat mengenaskan. Korban berikutnya menyusul, yaitu Bu Anita, seorang dosen muda yang cantik dan seksi, yang berpredikat janda. Ia meninggal pada malam menjelang keberangkatannya bertugas di London. Universitas tersebut seperti kena teror. Satu per satu korban jatuh. Umumnya yang diincar si pembunuh adalah wanita cantik dan bertubuh menggairahkan. Apakah Jack the Ripper mengalami reinkarnasi dan bergentayangan di kampus tersebut?Tiara dan gank-nya merasa terancam. Setiap hari mereka harus berhadapan dengan bahaya maut. Namun mereka berusaha keras menghentikan sepak terjang sang pembunuh. Siapa sebenarnya pembunuh psikopat yang telah membuat geger kampus mereka? Apakah pelakunya adalah penjaga malam yang misterius? Apakah hantu kampus terlibat dalam kasus ini? Tiara dan gank-nya ingin menguak misteri ini, walaupun nyawa mereka menjadi taruhannya.
Sudahkah anda membaca karya perdana saya berupa fiksi thriller ini? Jika sudah, mohon kasih komentar ya. Jika belum, download gratis di IDWS melalui link berikut ini:
http://files.indowebster.com/teror_di_kampus_d_heriyanto.html