11 Maret 2008

KEBANGKITAN FILM NASIONAL (SAMPAI KAPANKAH?)

Tulisan ini saya buat setelah mendengar dan melihat kabar penayangan perdana film Ayat-Ayat Cinta (AAC) pada tanggal 28 Februari 2008 serentak di seluruh Indonesia. Tentunya yang saya pantau baru di wilayah kota Surakarta di mana saya tinggal, terutama di Grand 21 Solo Grand Mall (SGM) yang menjadi barometer sinema di kota yang punya nama lain Solo ini.

Enam tahun sudah sejak film Ada Apa dengan Cinta (AADC - 2002) menghipnotis para pecinta film untuk rela antri di loket tiket gedung bioskop guna melihat dengan mata kepala sendiri kabar bagusnya cerita dan akting para pemerannya. Mungkin pertama kali yang menjadi daya tarik film itu adalah pemeran-pemerannya. Semua orang mengakui bahwa Nicholas Saputro cakep. Begitu juga Dian Sastro. Promosi juga begitu gencarnya lewat media massa atau elektronik yang menyatakan bahwa akting mereka juga luar biasa. Siapa yang tidak penasaran?

Belum lagi para pecinta film di negara kita nampaknya haus akan film-film nasional. Setelah film Petualangan Sherina yang juga memikat sebagian pecinta film, seolah mereka menginginkan film-film bermutu seperti itu.

Memang sudah cukup lama perfilman Indonesia mati. Tersingkirkan oleh film-film asing atau memang tidak ada orang yang kreatif lagi?

Matinya dunia perfilman Indonesia semakin tragis ketika diikuti munculnya teknologi video player nan murah meriah dan simple, yaitu VCD. Konon teknologi ini yang membuat gedung-gedung bioskop gulung tikar. Di kota Solo tercatat gedung-gedung bioskop yang cukup ternama seperti Solo Theatre (di area taman Sriwedari) dan Fajar Theatre (di daerah Pasar Gede) tutup. Apalagi bioskop-bioskop kecil seperti Ura Patria (UP) Theatre dan Dhady Theatre (dua-duanya berada di Jalan Slamet Riyadi, sangat strategis untuk sebuah bioskop). Padahal UP Theatre termasuk gedung bioskop di kota Solo yang setia memutar film-film nasional.

Belum lagi Atrium 21 yang berlokasi di Solo Baru sempat digembar-gemborkan sebagai gedung bioskop termegah kedua di Asia Tenggara karena memiliki 8 theatre. Dan menjadi kebanggaan warga Solo yang menyukai bioskop pada awal tahun 1990-an. Sayang, gedung megah itu menjadi korban kerusuhan Mei 1998. Gedung itu habis dilalap api, dan sampai sekarang masih menjadi bangkai.

Nasib serupa dengan Atrium 21 dialami Studio 21 yang memiliki 3 theatre, berlokasi di tempat yang sangat strategis, yaitu di pusat perbelanjaan Singosaren. Ketika pusat perbelanjaan itu juga menjadi korban kerusuhan Mei 1998, Studio 21 sempat mangkrak lama. Namun awal tahun 2000, ketika pusat perbelanjaan Singosaren direnovasi, Studio 21 muncul lagi. Sekarang menjadi satu-satunya pesaing Grand 21.

Saya teringat sewaktu masih SMP (sekitar tahun 80-an) merelakan bersama keluarga berbondong-bondong mendatangi gedung bioskop untuk menonton secara visual film berjudul Saur Sepuh. Bagi remaja jaman sekarang, pasti tidak mengenal film itu.

Kenapa film itu menjadi laris manis? Tak lain dan tak bukan, karena ceritanya diadaptasi dari sandiwara radio yang telah disiarkan secara bersambung. Waktu itu sandiwara radio sangat marak di kota Solo. Belum ada sinetron. Stasiun TV mungkin baru TVRI. Saya ingat sejak SD kelas 6, banyak orang membicarakan cerita Saur Sepuh, terutama petualangan tokoh-tokoh hebatnya seperti Brama Kumbara dan Mantili. Ini berlangsung lama, sampai filmnya beredar ketika saya sudah masuk SMP, radio-radio masih juga menayangkannya sampai Brama Kumbara menjadi raja dan mempunyai keturunan.

Saur Sepuh nyaris tidak beda dengan kasus larisnya AAC. Jika Saur Sepuh laris karena dari cerita radio yang sudah akrab di telinga pendengar, sementara AAC diangkat dari novel laris karya Habiburrahman El-Shirazy. Terus-terang, saya semula juga tidak begitu mengenal novel tersebut. Semula saya mengira novel tersebut terjemahan dari penulis Timur Tengah, karena saat itu maraknya buku-buku islami terjemahan dari negara-negara Timur Tengah. Bahkan ada teman bilang novel itu best-seller se-Asia Tenggara. Saya tidak tertarik membacanya.

Namun ketika tempat kursus bahasa Inggris milik saya secara resmi saya buka untuk umum yang dilengkapi buku-buku yang disewakan, banyak penyewa yang menanyakan buku itu. Terpaksa saya mencarinya. Pas saat itu semua toko buku di wilayah Surakarta kehabisan stok. Yang ada cuma karya penulis yang sama berjudul Ketika Cinta Bertasbih jilid 1 dan 2. Saya tetap berusaha mencari buku Ayat-Ayat Cinta untuk memuaskan para pelanggan. Sempat saya memperoleh buku tersebut tapi baru sadar kalau yang saya beli itu bajakan, dilihat dari kualitas cetak dan harga yang sangat murah serta di mana saya mendapatkannya. Terpaksa. Tapi akhirnya saya juga memperoleh aslinya secara online, meski harus menunggu selama 2 minggu.

Baru setelah itu saya sempatkan membaca. Itu juga demi memuaskan pelanggan yang ingin mengajak bercerita tentang novel tersebut.

Ketika mendengar bahwa AAC mau difilmkan, saya sudah pesimis bahwa filmnya bisa merepresentasikan novelnya. Tulisan Kang Abik (panggilan akrab penulis novel AAC) begitu indah. Pesan-pesan moral begitu kental tersampaikan dalam novel itu. Apakah filmnya bisa seindah novelnya?

Yang menjadi saya tertarik untuk membaca sampai habis novel itu bukan pada intrik-intriknya. Sebenarnya saya penggemar novel thriller. Ketegangan selalu memacu andrenalin saya untuk mengetahui akhir cerita sampai tuntas. Namun saya tidak menemukan ketegangan-ketegangan itu dalam novel AAC. Kenapa saya bisa tertarik? Kalau 2 buku karya Dan Brown, Malaikat & Iblis dan Da Vinci Code, bagi saya, memiliki daya tarik pada ketegangan-ketegangannya sehingga saya cepat menuntaskannya. Demikian juga Cau Bau Kan dan Kerudung Merah Kirmizi (keduanya karya Remy Sylado) yang memikat lewat intrik-intriknya.

Sementara, lagi-lagi bagi saya pribadi, novel AAC terlalu datar. Kang Abik kurang begitu menggigit dalam menggambarkan ketegangan cerita. Namun saya lagi-lagi bertanya: kenapa saya mampu membacanya sampai tuntas? Baru saya menemukan bahwa kehidupan yang diceritakan Kang Abik begitu suci dan indah. Banyak orang modern yang sudah melupakan dan mengarah pada jaman jahiliyah di mana selingkuh sudah menjadi hal biasa dan malah harus (baca: zina), orangtua tega membunuh anak, dan moral-moral bejat lainnya. Akhirnya, saya menganggap bahwa karya Kang Abik itu kontroversial. Kenapa kontroversial? Ya karena sangat bertentangan dengan kehidupan jaman sekarang.

Ini sama halnya dengan saya menyukai buku-buku karya Andrias Harefa (Menjadi Manusia Pembelajar, Sekolah Saja tidak Cukup, dll.) atau buku-buku Robert T. Kiyosaki yang tidak bedanya mengecam mutu sekolah sekarang. Datar dan monoton tapi meledak-ledak menantang!

Agaknya terlalu panjang saya bercerita tentang novel AAC. Akan tetapi semua itu sekedar untuk menggambarkan apresiasi salah satu pembaca AAC. Masih banyak pembaca AAC lainnya yang punya alas an-alasan tersendiri untuk menyukai novel ini. Lalu mereka penasaran ingin melihat versi layar lebarnya. Belum lagi para calon penonton yang mendengar kehebatan novel AAC tapi enggan membacanya (karena tidak suka membaca). Akhirnya, film AAC pun menjadi boom!

Kalau saja sebagian film nasional adalah hasil adaptasi semacam AAC atau Saur Sepuh, maka pastilah akan menyedot penonton lebih banyak. Konon AADC juga diangkat dari novel yang kurang popular. Tapi begitu film beredar, versi novelnya banyak dicari.

Melongok ke luar negeri, film-film hasil adaptasi pun mampu meraup banyak uang. Lihat saja kedahsyatan film Harry Potter yang ber-seri dan trilogi Lord of the Rings. Belum lagi film-film adaptasi komik seperti Spider-man dan Batman.

Apakah kita juga lupa dengan sukses film Gie yang meraih banyak penghargaan di festival film Asia? Bagaimana dengan film Cau Bau Kan yang konon masuk nominasi Academy Awards (ajang festival film dunia) meski tidak lolos?

Mungkin menjadi kabar baik bahwa karya besar Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi akan diangkat ke layar lebar. Pasti nantinya akan meraup penonton lebih banyak daripada film Suster Ngesot atau Terowongan Casablanca. Bila benar-benar sukses, mungkin tetralogi-nya yang lain juga ikut difilmkan. Adakah sineas Indonesia yang mau melanjutkan sukses AAC lewat karya-karya Habiburahman El-Shirazy yang lain? Atau mungkin Gajah Mada-nya Langit Kresna Hariadi dibuat secara kolosal? Sayang sekali, dulu tidak ada sineas yang melirik Supernova-nya Dee (nama samaran Dewi Lestari, salah satu personil RSD (Rida Sita Dewi)) yang juga sempat best-seller. Kenapa juga film Jakarta Undercover (dibintangi Luna Maya) begitu jelek seperti itu? Jauh dari isi bukunya malah. Atau cuma nebeng popularitas doang?

Dengan kesuksesan film-film lokal di negeri sendiri, saya berharap ada sineas Indonesia (paling tidak satu orang) yang bisa tampil di pentas dunia. India bangga dengan M. Night Shyamalan (sukses lewat film The Signs, dibintangi Mel Gibson, dan The Village). Thailand punya Wych Kaosayananda (film Balistics: Ecks vs. Sever, dibintangi Antonio Banderas dan Lucy Liu). Lalu China melalui John Woo (berkibar lewat film-film action-nya macam Hard Target (Jean Claude Van Damme ), Face/Off (John Travolta & Nicholas Cage), MI-2 (Tom Cruise), dll.).

Sempat terdengar kabar bahwa Indonesia nyaris memiliki sineas mendunia. Sukses Rizal Mantovani lewat Jelangkung menarik minat Miramax, produsen film kelas kakap, untuk menggarap sebuah film. Sayang beribu-ribu sayang, apakah itu cuma kabar burung, karena sampai sekarang belum terlihat hasilnya. Malah disayangkan lagi, Mas Rizal ikut-ikutan latah bikin film horror seperti Kuntilanak. Bagi saya, film-film horror Indonesia kurang bermutu. Saya cenderung tidak suka menyebutnya sebagai film horror, melainkan film monster. Kenapa film monster? Lihat aja, hantu-hantu yang ditampilkan tidak beda dengan monster. Berbentuk aneh dan menjijikkan. Tidak beda dengan film Aliens. Namun beda dengan film Jelangkung-nya Mas Rizal yang menggambarkan hantunya secara absurd. Itulah hantu atau setan. Menggoda ke relung jiwa tapi tidak berujud.

Di luar negeri, film horror bagus yang berhubungan dengan hantu/setan yang sangat saya ingat adalah Skeleton Key (2005). Posessed (2000) juga bagus. Keduanya adalah film hantu yang tidak berkesan monster.

Namun demikian, baik-buruknya film-film yang dihasilkan para sineas Indonesia, semuanya turut meramaikan dan membangkitkan gejolak perfilman Indonesia. Era perfilman Indonesia muncul lagi setelah mati selama puluhan tahun.

Tapi akankah semua ini berlangsung seterusnya? Akankah seperti film-film Hollywood yang berhasil memikat saya sampai sekarang sejak jatuh cinta pertama kali pada produknya yang berjudul Superman (1978, Superman 2 – 1980, Superman 3 – 1983, yang dibintangi oleh almarhum Christopher Reeves)? Akankah juga seperti film China yang mulai menghentak pertama kali di Indonesia sejak era Bruce Lee, dan sekarang Jet Lee serta Jackie Chan? Atau film-film India sejak masa muda Amitabh Bachchan atau Mitchun Chakraborty?

Semoga saja begitu.

Tidak ada komentar: