26 Februari 2008

Jangan Larang Mereka Membaca Komik

Kalau ada orang yang menganggap bahwa membaca komik adalah kegiatan negatif, maka terkutuklah orang itu! Komik bukanlah sampah. Komik bukanlah buku berkualitas rendah. Komik tidak pernah merusak moral anak.

Ada baiknya memandang sesuatu jangan hanya dari kulitnya saja. Buku tidak bisa dikatakan bermutu hanya karena sampulnya bagus. Buku tidak dilihat berkualitas hanya karena tebal atau tipisnya buku tersebut. Satu-satunya yang membuat sebuah buku berkualitas atau tidak hanyalah pada isinya. Jika isi buku itu berbobot, maksudnya mendidik dan tidak menyesatkan, maka berkualitaslah buku tersebut.

Demikian pula dengan komik. Komik yang bermutu akan berisi pendidikan moral yang baik. Misalnya, komik-komik superhero dari Amerika, seperti Superman, Spiderman, X-Men, dan lain-lain, telah memberikan kontribusi pada anak akan sosok seorang pemberani. Salah satu yang saya ingat, komik Spiderman memberikan pendidikan moral bahwa semakin tinggi kemampuan seseorang, semakin tinggi pula tantangan dalam hidupnya. Yang dimaksud dengan ‘kemampuan’ di sini bisa jadi ‘kepandaian’ atau ‘ketrampilan’. Orang yang pandai atau trampil akan menghadapi banyak tantangan. Misalnya, seorang pengusaha pandai dan trampil akan menghadapi tantangan-tantangan bisnis; seorang guru yang cerdas akan tertantang untuk menaklukkan siswa-siswa yang bodoh untuk dijadikan pintar.

Komik kartun terkenal lainnya, seperti Smurf, memberikan kontribusi unik tentang pentingnya bergotong-royong. Sementara komik Disney juga memiliki sisi pendidikan moral yang unik tentang nilai-nilai psikologi, misalnya hasil negatif dari tindakan angkuh dan tamak. Masih banyak lagi komik dari dataran Amerika dan Eropa yang memiliki nilai moral cukup bagus. Kalau perlu disebutkan, yaitu: Petualangan Tintin, Steven Sterk, Asterix & Obelix, dan masih banyak lagi.

Namun demikian ada pula komik yang tidak bermutu. Beberapa komik manga dari Jepang—tidak perlu saya sebutkan, telah menampilkan keseronokan dengan menampilkan tokoh-tokoh gadis mengenakan rok super-mini. Belum lagi adegan-adegan telanjang lainnya. Beberapa komik dari Jepang itu nyaris tidak memiliki alur cerita yang jelas. Atau mungkin karena bersambung sehingga alur ceritanya seperti telenovela? Lain dengan komik-komik superhero yang kebanyakan dalam bentuk episode. Maksudnya, jika anda membaca komik Superman episode 20, anda tidak perlu khawatir kehilangan alur cerita, karena dalam episode itu ada cerita dan tantangan baru bagi sang tokoh.

Satu contoh komik dari Jepang yang cukup memiliki pendidikan moral yang bagus yaitu Kungfu Boy. Komik lama ini dikemas dengan cukup apik. Alur cerita merujuk pada pengembaraan sang tokoh dalam meningkatkan ketrampilan kungfu-nya. Komik itu menggambarkan betapa beratnya menimba ilmu. Dan tantangan-tantangan yang berat itu harus dihadapi, karena ilmu sangatlah penting dalam kehidupan.

Bagaimana dengan komik Shinchan? Sejauh ini, dalam pandangan saya, komik Shinchan pantas untuk dikonsumsi orangtua, karena di situ digambarkan betapa repotnya mengatasi anak yang hyper-active. Lihat saja, bagaimana Shinchan, sang anak, begitu cerewet dan bertingkah. Otaknya berkembang dengan cepat. Itulah gambaran anak-anak jaman sekarang. Akan tetapi komik itu tidak pantas dikonsumsi anak-anak, karena dimungkinkan akan menambah khasanah kenakalan si anak.

Ingat komik Shinchan, saya jadi teringat kartun The Simpsons. Serial kartun yang pernah ditayangkan di televisi itu pernah dikecam penonton Indonesia karena ditayangkan sore hari. Atas kecaman tersebut, akhirnya film kartun itu pun ditayangkan malam hari di mana anak-anak dimungkinkan sudah tidur dan tidak akan menontonnya. Kenapa dikecam? Film kartun itu sebenarnya cukup bagus dan lucu. Namun film itu hanya pantas dikonsumsi orangtua seperti halnya komik Shinchan. Kenapa? Karena banyak adegan dan kata-kata kotor dalam film itu. Perilaku sang tokoh, Bart Simpson, tidak beda jauh dengan Shinchan, bahkan lebih vulgar. Sementara ayahnya Bart Simpson, Homer Simpson, lebih mengerikan lagi. Tokoh Homer digambarkan sebagai orang yang mudah panik, suka mabuk-mabukan, dan perilaku aneh lainnya. Apakah itu bagus untuk anak-anak?

Oleh karena itu, kita harus melakukan seleksi yang baik terhadap komik yang akan kita baca. Saran untuk penerbit dan pembuat komik, ciptakan komik-komik bermutu. Negara kita pernah memiliki komik-komik bermutu, seperti seri cerita pewayangan Mahabharata dan lain-lain. Kita juga pernah memiliki komik seri silat atau superhero seperti Gundala Putera Petir. Komik-komik tersebut pernah berjaya di tahun ’80-an. Lalu di manakah mereka? Di mana generasi mereka?

Sekarang ini komik di Indonesia sepertinya terpuruk. Banyak komik manga bermunculan di pasaran. Beberapa komik Indonesia lama juga dicoba dikemas dalam bentuk manga, tapi agaknya penjualannya tidak sebagus komik Jepang itu sendiri. Bahkan komik dari Amerika dan Eropa pun mulai tersingkir. Memang, Jepang sedang merajai perkomikan dunia.

Kenyataan ini tidak mengharuskan kita melarang anak-anak membaca komik. Sebagai orangtua atau guru, kita harus mampu memilihkan bacaan-bacaan yang bermutu bagi anak-anak kita. Komik adalah dunia anak-anak. Kebanyakan anak belum mampu menikmati buku-buku teks seperti buku-buku pelajaran mereka. Anak-anak belum bisa dipaksa membaca buku-bukunya Andrias Harefa atau Robert T. Kiyosaki. Dunia anak adalah dunia visualisasi. Oleh karena itu, anak-anak lebih mudah dekat dengan televisi, karena televisi memberikan dunia visualisasi yang sempurna. Jangan sampai anak-anak kita terenggut oleh dunia televisi. Ajaklah mereka mengenal buku. Awalilah dengan komik. Berikanlah komik-komik yang bermutu. Kalaupun mereka menyukai komik-komik yang kurang bermutu, jangan lalu dimarahi. Saya pernah menemukan orangtua yang marah besar ketika melihat anaknya membaca komik. Bahkan dengan nada amarah besar, orangtua itu mengatakan: “Kalau baca komik terus, nanti Papa sobek-sobek komik itu!”

Melarang seseorang, terutama anak, membaca komik adalah sebuah pelanggaran hak asasi manusia. Anak-anak tidak bisa dilarang begitu saja. Bahkan anak sekarang cenderung memiliki sifat pemberontak. Lebih mengerikan lagi, apabila orangtua bersikap seperti di atas, dalam hidup anak akan muncul trauma terhadap buku. Selanjutnya si anak akan selalu menjauhi buku bacaan, karena takut dengan kemarahan orangtuanya. Akhirnya anak tersebut tumbuh tanpa bimbingan buku. Bagaimana jadinya ya?

Apabila si anak menemukan sebuah bacaan yang kurang bermutu, sebagai orangtua, kita harus melakukan pendekatan, bukan memarahinya. Ambil hatinya. Maksudnya, cari situasi di mana si anak merasa senang. Atau temukan waktu ketika si anak sedang asyik membaca komik itu. Dekatilah si anak dengan lembut, hilangkan amarah, kemudian tanyakan isi komik yang sedang dibacanya. Cari tahu sejauh mana si anak memahami isi komik tersebut. Sebelumnya, sebagai orangtua, kita jangan sekedar menilai komik dari penilaian orang lain saja. Ada baiknya kita juga membaca apa yang dibaca si anak. Tidak suka membaca? Nah lho, itu lebih parah lagi! Tidak tahu apa-apa, asal marah saja. Apakah anak diciptakan hanya sebagai tumpuan kemarahan? Apakah orangtua harus selalu di pihak yang benar, sementara anak selalu disalahkan? Ada kasus, ketika seorang ayah menaruh ember berisi air di pintu keluar, lalu si anak lewat dan menabrak ember tersebut sampai tumpah. Siapa yang disalahkan? Sebaliknya ketika si anak menaruh ember berisi air di pintu keluar, sang ayah lewat dan menabrak ember sampai tumpah. Siapa yang disalahkan? Selalu anak yang disalahkan. Benarkah?

Bagaimanapun juga, dengan membaca komik, anak mulai mengenal buku. Komik juga berisi kata-kata. Lewat kata-kata itu, si anak mempelajari bahasa tulis. Komik bisa menjadi titik tolak untuk mengarah pada buku-buku teks. Semua tinggal kita sebagai orangtua dalam mengarahkan minat baca si anak. Jangan pernah mematikan minat baca si anak, karena itu berarti sama saja dengan membunuh masa depannya.

Sebagai anak, membaca komik harus tahu aturan. Waktu belajar jangan digunakan membaca komik. Membaca komik dapat dilakukan di waktu luang, terutama waktu libur sekolah. Membaca komik lebih baik daripada menonton televisi atau bermain PlayStation. Bahkan lebih asyik lho!

Sudahkah anak anda mengenal komik? Selamat membaca komik! (dh)

25 Februari 2008

Cerpen: Selingkuh

versi lengkap (tanpa edit)
dimuat di Harian SoloPos, Minggu, 02 Desember 2007
dengan nama samaran: Serpihan DH.

“Cuma sekali aja, Mas,” suara manja itu menggelitik telingaku.
Ingin rasanya kembali menggeluti tubuh mungil nan indah itu. Namun entah kenapa, tidak seperti biasanya, ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku. Keinginan untuk pulang.
Dengan agak terburu, kukenakan semua pakaianku yang tadi dilucuti perempuan manis yang sekarang terbaring manja di atas ranjang. Tubuhnya yang tanpa sehelai kain menggoda pikiranku. Membawa diriku dalam kebimbangan. Antara pulang dan kembali dalam dekapannya.
Tapi lagi-lagi entah kenapa hatiku bersikeras ingin pulang. Bersenang-senang dengan perempuan itu bisa kulakukan kapan-kapan lagi, karena sekarang ini pun bukan kali pertamanya aku bersama dia. Besok atau lusa masih bisa diulang dan terus diulang. Lain halnya dengan perasaanku sekarang yang menginginkan untuk pulang. Perasaan ini begitu meledak-ledak. Padahal belum ada seminggu aku meninggalkan rumah. Biasanya dua minggu, bahkan terkadang sampai satu bulan, aku tidak pulang. Asal sudah menyampaikan alasan pada orang rumah, semuanya beres.
“Tumben kok kesusu, Mas. Susu-ku kan lebih enak,” Perempuan itu bangkit dari ranjang. Ia menyeringai menggoda.
Aku cuma tersenyum. Mengancingkan satu kancing kemeja yang tersisa sambil mengecup puting susunya. Ia tertawa kecil.
“Bye, honey! See you!” Aku segera mengenakan sepatu tanpa berkaos kaki, meraih tas berisi laptop, lalu keluar dari kamar hotel menuju ke tempat parkir.
Sudah hampir satu tahun aku dekat dengan perempuan itu. Seperti perempuan-perempuan lain yang pernah sangat dekat denganku, dia juga mahasiswiku. Biasanya memang hampir tiap tahun aku memiliki mahasiswi spesial yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Kedekatan dalam konsultasi tugas akhir seringkali menggoda jiwa petualangku, karena memang mereka adalah apa yang sering disebut masyarakat sebagai ayam kampus.
Namun perempuan yang satu ini agaknya lain. Kedekatanku dengannya bisa dikatakan cukup lama. Biasanya ketika masa konsultasi selesai, hubungan pun usai. Yang ini masih berlangsung hingga sekarang. Sampai dia lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan terkenal.
Aku masa bodoh saja. Selama dia memiliki pengertian untuk tidak minta dinikahi, aku akan selalu bersedia menemaninya. Atau mungkin suatu ketika dia ingin mengakhiri hubungan, aku juga telah siap untuk menghadapinya. Toh semua ini bagiku hanyalah just for fun doang. Tidak lebih.
Tak ada orang dekatku yang mengetahui petualanganku ini. Hanya beberapa yang mencurigaiku, namun kecurigaannya tidak pernah bisa terbukti selama ini. Termasuk istriku sendiri. Lagipula banyak orang yang tidak peduli dengan petualanganku ini. Aku tahu ini adalah selingkuh. Perbuatan yang curang dan khianat. Tapi sekarang memang baru trend. Laki-laki kalau belum memiliki pasangan lebih dari satu, belum bisa disebut sebagai lelaki sejati. Lelaki harus menjadi simbol dari harta, tahta dan wanita. Dan ketiganya itu sudah kumiliki sekarang. Harta apa yang belum kumiliki. Rumah, mobil, penghasilan tinggi, apalagi? Jabatan sebagai pembantu dekan adalah tahta bagiku yang belum mencapai usia 40 tahun. Jabatan dekan atau bahkan rektor bukan mustahil aku dapatkan kelak di kemudian hari, karena aku termasuk salah satu dosen yang pantas diperhitungkan secara akademis untuk jabatan itu. Nah, sekarang tinggal wanita untuk melengkapi kesempurnaan hidupku di dunia. Sebagai formalitas hidup, aku memiliki istri yang sah. Widi, Meila, Ratna dan sekarang ini Tika adalah gundik-gundikku yang telah membuatku lebih sempurna.
Semua itu menjadi kebanggaanku sebagai manusia. Aku menjadi lebih percaya diri. Aku merasa sebagai raja diraja yang akan hidup ribuan tahun lamanya.
Namun saat ini semua perasaan itu terganggu. Semenjak istriku mendapatkan kedudukan baru di tempat kerjanya sebagai manajer pemasaran, aku merasa gundah setiap kali meninggalkan rumah. Aku pun seringkali membuntutinya ketika dia berangkat kerja. Dulu sebelum menjadi manajer pemasaran, aku yang selalu mengantarnya ke kantor. Tapi sekarang dia sudah mendapatkan fasilitas sopir pribadi. Sang sopir itulah yang mulai selalu mengganggu pikiranku.
Harusnya aku tak perlu curiga. Begitu bodohnya aku mengira istriku selingkuh dengan sopir perusahaan. Apa yang diharapkan? Seorang sopir perusahaan punya penghasilan berapa? Sejauh mana masa depannya jika dibandingkan dengan aku?
Tapi entah kenapa, meski aku sudah menenangkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan itu, perasaan ini tetap saja gundah.
Aku memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Pikiran dan perasaan yang resah membuat mobilku beberapa kali hendak menabrak motor atau mobil lain yang kulalui.
Tiba di perempatan jalan yang traffic light-nya menyala merah, suara decit dari rem yang kurem secara mendadak mengejutkan beberapa orang yang ada di sekitar perempatan itu.
Aku menghitung waktu sembari pandangan mata tidak lepas dari lampu lalu lintas.
Ketika lampu menyala hijau, kembali aku menekan pedal gas dalam-dalam. Mendadak mobilku laksana meloncat menerobos perempatan.
Tiba-tiba sepasang mataku dikejutkan oleh sebuah bis yang nyelonong dari arah sebelah kiri dengan kecepatan tinggi. Aku sempat berteriak. Yang kusadari, aku berada di sisi jalan lain, lalu melangkahkan kaki dengan cepat melanjutkan perjalanananku yang tidak jauh lagi. Melupakan kejadian itu.
Tidak lama kemudian aku sampai di rumah. Tepat di dalam kamar tidur, aku nyaris menjerit melihat pemandangan di atas ranjang. Seorang pria telanjang berada di atas tubuh istriku yang juga telanjang. Dan nampak sekali istriku menikmatinya.
Aku mendekati pria itu dari belakang. Memukulnya secara tiba-tiba. Tapi tidak kena. Sekali lagi. Tidak kena. Berkali-kali. Tetap saja tidak mengenai tubuhnya.
Kemudian tubuh pria itu berguling ke samping dengan wajah dan senyum penuh kepuasan. Begitu juga istriku. Perempuan itu pun bergayut di dada si pria.
Hatiku memanas. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Berkali-kali aku mencoba memukul pria itu, tapi tidak pernah mengena. Aku pun mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah pada diriku. Ini pasti disebabkan oleh kejadian di perempatan tadi.
Aku hendak kembali ke perempatan di mana mobilku tertabrak bis. Akan tetapi telingaku sempat mendengar suara lembut istriku.
“Aku belum memberitahu suamiku kalau akhirnya aku bisa memiliki janin dalam perutku. Berkali-kali dia menyalahkan diriku yang tidak bisa memberi keturunan. Ingin sekali aku memberitahunya, tapi dia sangat sibuk dengan seminar-seminarnya.“
Aku betul-betul terpukul mendengarnya. Namun aku tetap melangkah dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Sesampai di perempatan yang aku tuju, aku semakin tak kuasa menahan jeritan. Aku berteriak sekeras-kerasnya. Tapi tidak ada satupun dari orang-orang yang berkerumun di tempat itu menoleh ke arahku. Perhatian semua orang tertuju pada mobil sedanku yang remuk berantakan, sementara beberapa orang sibuk mengeluarkan sosok bersimbah darah di dalam mobil. Itu adalah tubuhku.
Lalu aku…..