25 Februari 2008

Cerpen: Selingkuh

versi lengkap (tanpa edit)
dimuat di Harian SoloPos, Minggu, 02 Desember 2007
dengan nama samaran: Serpihan DH.

“Cuma sekali aja, Mas,” suara manja itu menggelitik telingaku.
Ingin rasanya kembali menggeluti tubuh mungil nan indah itu. Namun entah kenapa, tidak seperti biasanya, ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku. Keinginan untuk pulang.
Dengan agak terburu, kukenakan semua pakaianku yang tadi dilucuti perempuan manis yang sekarang terbaring manja di atas ranjang. Tubuhnya yang tanpa sehelai kain menggoda pikiranku. Membawa diriku dalam kebimbangan. Antara pulang dan kembali dalam dekapannya.
Tapi lagi-lagi entah kenapa hatiku bersikeras ingin pulang. Bersenang-senang dengan perempuan itu bisa kulakukan kapan-kapan lagi, karena sekarang ini pun bukan kali pertamanya aku bersama dia. Besok atau lusa masih bisa diulang dan terus diulang. Lain halnya dengan perasaanku sekarang yang menginginkan untuk pulang. Perasaan ini begitu meledak-ledak. Padahal belum ada seminggu aku meninggalkan rumah. Biasanya dua minggu, bahkan terkadang sampai satu bulan, aku tidak pulang. Asal sudah menyampaikan alasan pada orang rumah, semuanya beres.
“Tumben kok kesusu, Mas. Susu-ku kan lebih enak,” Perempuan itu bangkit dari ranjang. Ia menyeringai menggoda.
Aku cuma tersenyum. Mengancingkan satu kancing kemeja yang tersisa sambil mengecup puting susunya. Ia tertawa kecil.
“Bye, honey! See you!” Aku segera mengenakan sepatu tanpa berkaos kaki, meraih tas berisi laptop, lalu keluar dari kamar hotel menuju ke tempat parkir.
Sudah hampir satu tahun aku dekat dengan perempuan itu. Seperti perempuan-perempuan lain yang pernah sangat dekat denganku, dia juga mahasiswiku. Biasanya memang hampir tiap tahun aku memiliki mahasiswi spesial yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Kedekatan dalam konsultasi tugas akhir seringkali menggoda jiwa petualangku, karena memang mereka adalah apa yang sering disebut masyarakat sebagai ayam kampus.
Namun perempuan yang satu ini agaknya lain. Kedekatanku dengannya bisa dikatakan cukup lama. Biasanya ketika masa konsultasi selesai, hubungan pun usai. Yang ini masih berlangsung hingga sekarang. Sampai dia lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan terkenal.
Aku masa bodoh saja. Selama dia memiliki pengertian untuk tidak minta dinikahi, aku akan selalu bersedia menemaninya. Atau mungkin suatu ketika dia ingin mengakhiri hubungan, aku juga telah siap untuk menghadapinya. Toh semua ini bagiku hanyalah just for fun doang. Tidak lebih.
Tak ada orang dekatku yang mengetahui petualanganku ini. Hanya beberapa yang mencurigaiku, namun kecurigaannya tidak pernah bisa terbukti selama ini. Termasuk istriku sendiri. Lagipula banyak orang yang tidak peduli dengan petualanganku ini. Aku tahu ini adalah selingkuh. Perbuatan yang curang dan khianat. Tapi sekarang memang baru trend. Laki-laki kalau belum memiliki pasangan lebih dari satu, belum bisa disebut sebagai lelaki sejati. Lelaki harus menjadi simbol dari harta, tahta dan wanita. Dan ketiganya itu sudah kumiliki sekarang. Harta apa yang belum kumiliki. Rumah, mobil, penghasilan tinggi, apalagi? Jabatan sebagai pembantu dekan adalah tahta bagiku yang belum mencapai usia 40 tahun. Jabatan dekan atau bahkan rektor bukan mustahil aku dapatkan kelak di kemudian hari, karena aku termasuk salah satu dosen yang pantas diperhitungkan secara akademis untuk jabatan itu. Nah, sekarang tinggal wanita untuk melengkapi kesempurnaan hidupku di dunia. Sebagai formalitas hidup, aku memiliki istri yang sah. Widi, Meila, Ratna dan sekarang ini Tika adalah gundik-gundikku yang telah membuatku lebih sempurna.
Semua itu menjadi kebanggaanku sebagai manusia. Aku menjadi lebih percaya diri. Aku merasa sebagai raja diraja yang akan hidup ribuan tahun lamanya.
Namun saat ini semua perasaan itu terganggu. Semenjak istriku mendapatkan kedudukan baru di tempat kerjanya sebagai manajer pemasaran, aku merasa gundah setiap kali meninggalkan rumah. Aku pun seringkali membuntutinya ketika dia berangkat kerja. Dulu sebelum menjadi manajer pemasaran, aku yang selalu mengantarnya ke kantor. Tapi sekarang dia sudah mendapatkan fasilitas sopir pribadi. Sang sopir itulah yang mulai selalu mengganggu pikiranku.
Harusnya aku tak perlu curiga. Begitu bodohnya aku mengira istriku selingkuh dengan sopir perusahaan. Apa yang diharapkan? Seorang sopir perusahaan punya penghasilan berapa? Sejauh mana masa depannya jika dibandingkan dengan aku?
Tapi entah kenapa, meski aku sudah menenangkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan itu, perasaan ini tetap saja gundah.
Aku memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Pikiran dan perasaan yang resah membuat mobilku beberapa kali hendak menabrak motor atau mobil lain yang kulalui.
Tiba di perempatan jalan yang traffic light-nya menyala merah, suara decit dari rem yang kurem secara mendadak mengejutkan beberapa orang yang ada di sekitar perempatan itu.
Aku menghitung waktu sembari pandangan mata tidak lepas dari lampu lalu lintas.
Ketika lampu menyala hijau, kembali aku menekan pedal gas dalam-dalam. Mendadak mobilku laksana meloncat menerobos perempatan.
Tiba-tiba sepasang mataku dikejutkan oleh sebuah bis yang nyelonong dari arah sebelah kiri dengan kecepatan tinggi. Aku sempat berteriak. Yang kusadari, aku berada di sisi jalan lain, lalu melangkahkan kaki dengan cepat melanjutkan perjalanananku yang tidak jauh lagi. Melupakan kejadian itu.
Tidak lama kemudian aku sampai di rumah. Tepat di dalam kamar tidur, aku nyaris menjerit melihat pemandangan di atas ranjang. Seorang pria telanjang berada di atas tubuh istriku yang juga telanjang. Dan nampak sekali istriku menikmatinya.
Aku mendekati pria itu dari belakang. Memukulnya secara tiba-tiba. Tapi tidak kena. Sekali lagi. Tidak kena. Berkali-kali. Tetap saja tidak mengenai tubuhnya.
Kemudian tubuh pria itu berguling ke samping dengan wajah dan senyum penuh kepuasan. Begitu juga istriku. Perempuan itu pun bergayut di dada si pria.
Hatiku memanas. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Berkali-kali aku mencoba memukul pria itu, tapi tidak pernah mengena. Aku pun mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah pada diriku. Ini pasti disebabkan oleh kejadian di perempatan tadi.
Aku hendak kembali ke perempatan di mana mobilku tertabrak bis. Akan tetapi telingaku sempat mendengar suara lembut istriku.
“Aku belum memberitahu suamiku kalau akhirnya aku bisa memiliki janin dalam perutku. Berkali-kali dia menyalahkan diriku yang tidak bisa memberi keturunan. Ingin sekali aku memberitahunya, tapi dia sangat sibuk dengan seminar-seminarnya.“
Aku betul-betul terpukul mendengarnya. Namun aku tetap melangkah dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Sesampai di perempatan yang aku tuju, aku semakin tak kuasa menahan jeritan. Aku berteriak sekeras-kerasnya. Tapi tidak ada satupun dari orang-orang yang berkerumun di tempat itu menoleh ke arahku. Perhatian semua orang tertuju pada mobil sedanku yang remuk berantakan, sementara beberapa orang sibuk mengeluarkan sosok bersimbah darah di dalam mobil. Itu adalah tubuhku.
Lalu aku…..

Tidak ada komentar: