28 April 2008

PARA PAHLAWAN PENDIDIKAN MODERN

Pada hari Rabu pagi, pukul 13.30, Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumatera Utara digerebek para anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Kepolisian Daerah Sumut. Waktu itu para guru tertangkap basah sedang membetulkan (mengubah jawaban menjadi benar) pada lembar jawab siswa SMA tersebut di dalam sebuah ruang khusus. Semua itu telah terencana sebelumnya, mengingat hasil uji coba Ujian Nasional (UN) siswa di sekolah itu sangat buruk. (Kompas, 26 April 2008)

Sebagian orang, atau malah kebanyakan, mungkin menyayangkan perbuatan seperti itu. Ya, memang mungkin begitu bagi kita yang tinggal di kota-kota besar di Pulau Jawa, terutama para pendidik, baik guru maupun dosen. Tindakan para guru SMA Negeri 2 Lubuk Pakam itu sungguh memalukan. Mencoreng muka pendidikan di negara kita. Tapi benarkah demikian?

Mungkin juga bisa jadi tidak demikian. Sudah banyak para pakar atau pemerhati pendidikan yang tidak setuju dengan diadakannya UN. Namun pemerintah tetap saja bersikeras bahwa UN adalah satu-satunya tolok ukur kualitas pendidikan negara kita. Sungguh menyedihkan! (baca juga artikel yang saya posting sebelumnya, berjudul “Menggagas Pendidikan di Indonesia”)

Semua orang tahu, bahwa selama ini pembangunan kurang merata di beberapa daerah. Pembangunan hanya terfokus pada pulau Jawa. Sementara pulau-pulau lain masih banyak yang jauh terbelakang. Nah, hal yang demikian ini sangat tidak mungkin kemampuan siswa di Sumatera Utara disamaratakan secara total dengan siswa-siswa di Jakarta melalui UN. Terang saja para guru di daerah sana kalang-kabut. Mereka nyaris tidak bisa berbuat apa-apa, mengingat fasilitas yang dimiliki jauh dibandingkan dengan sekolah-sekolah di Jawa. Aspirasi mereka pun tidak ditanggapi dengan baik. Alhasil, mereka berbuat melenceng dari profesinya agar tidak ‘membunuh’ masa depan siswa. Sama halnya seperti makan buah simalakama.

Kalau melihat pelajaran sejarah, para pahlawan nasional kita pun di masa kolonialisme, pada masa itu sempat merasa bingung. Diam berarti membuat sebagian rakyat sengsara, berbuat sesuatu malah menentang pemerintah dan bahkan mungkin bangsa pribumi yang pro pemerintah. Tapi mereka adalah para pahlawan, yang tidak betah melihat penindasan.

Tahukah anda bahwa Ki Hajar Dewantoro disebut sebagai pahlawan pendidikan karena menentang konsep pendidikan masa itu? Waktu itu pemerintah Belanda menyeragamkan kurikulum pendidikan di tanah jajahannya. Ki Hajar Dewantoro tidak menginginkan keseragaman itu. Beliau menginginkan yang lain tapi bersifat nasionalis, dan yang terpenting adalah mendidik, bukannya mendoktrinasi. Oleh karena itu, beliau dianggap sebagai pemberontak.

Sama halnya dengan Raden Mas Ontowiryo (lebih terkenal dengan nama Pangeran Diponegoro). Beliau juga dianggap pemberontak oleh pemerintah masa itu. Banyak orang di kalangan menengah atas yang mengecam tingkah-lakunya, karena merugikan mereka.

Apakah para guru SMA Negeri 2 Lubuk Pakam itu kelak dianggap sebagai pahlawan ketika kolonialisme UN berakhir?

Berdasarkan informasi yang diperoleh, ternyata tidak cuma sekolah di SMA Negeri 2 Lubuk Pakam saja yang melakukan perbuatan ‘curang’ tersebut. Beberapa sekolah, terutama di daerah-daerah, juga melakukannya beberapa tahun terakhir ini. Namun nasib jelek menimpa para guru di SMA Negeri 2 Lubuk Pakam yang tertangkap basah.

Akankah kejadian yang bukan cuma sekali itu terjadi akan membuka mata pemerintah yang masih menganggap ‘dewa’ bagi UN? Semoga saja. Karena pendidikan adalah hal yang paling krusial dalam diri bangsa. Maju-mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh pendidikannya, bukan banyak-sedikitnya koruptor yang ada dalam tubuh bangsa tersebut. Oleh karenanya kemajuan pendidikan harus kita pikirkan bersama. Bukannya malah mengejar-ngejar koruptor yang pada akhirnya membentuk badan-badan korup yang baru, atau malah menimbulkan saling tuduh, rasa curiga, dan lapor-melapor dengan bukti aspal (asli tapi palsu). Majulah pendidikan Indonesia!! [dh]

23 April 2008

INTERNET WILL BE DEAD SOON

Pagi ini, 23 April 2008, sambil menunggu istri yang sedang berkemas-kemas untuk berangkat kerja, saya sempatkan membuka harian KOMPAS yang tergeletak di meja teras depan rumah. Hanya dengan ditemani susu sari kedelai hangat yang tinggal seperempat gelas, saya terkejut melihat satu artikel kecil di pojok kanan bawah halaman depan suratkabar nomor satu di Indonesia itu.



Jujur, saya salah seorang dari sekian banyak orang di dunia yang percaya bahwa teknologi mutakhir akan sangat membantu kehidupan umat manusia. Sementara sebagian yang lain bilang, bahwa perkembangan teknologi akan membawa manusia pada akhir dunia (the end of the world). Entah mana yang benar, tapi selama ini saya hidup ditopang banyak oleh teknologi, termasuk salah satunya internet.



Internet akan mati? Ternyata dalam artikel di KOMPAS tidak mengatakan demikian. Para pakar teknologi memprediksikan bahwa dalam waktu dekat, internet akan mengalami tragedi kemacetan yang sangat dahsyat. Kenapa? Karena dewasa ini begitu banyaknya bandwidth yang dibutuhkan untuk media-media website baru. Beberapa website baru itu membutuhkan bandwidth yang sangat tinggi karena menampilkan video streaming dan gambar-gambar bergerak lainnya, termasuk file-file besar yang banyak diunduh (baca: download) oleh user. Contohnya saja, YouTube dikatakan bahwa saat ini penggunaan bandwidth-nya sama dengan total penggunaan internet di dunia pada tahun 2000.



Jika demikian adanya, para pakar teknologi memprediksikan tragedi internet akan terjadi pada tahun 2011. Betulkah?



Selesai membaca artikel tersebut, saya berpendapat bahwa tidak mungkin tragedi itu terjadi. Bahkan tidak mungkin internet kolaps atau berakhir begitu saja. Internet adalah teknologi komunikasi yang paling mutakhir saat ini. Apakah semua orang akan berdiam diri? Apakah para pakar teknologi tidak akan bertindak?



Mengutip satu artikel dari pembelajar.com, teknologi internet membutuhkan waktu yang jauh lebih cepat dibandingkan teknologi televisi dan radio dalam merambah dunia. Mungkin kecepatan inilah yang mengkhawatirkan beberapa penganalisa bahwa internet akan mengalami kemacetan total.



Saya yakin, pengembangan akan terus dilakukan. Inovasi-inovasi baru akan ditemukan. Semua demi menopang keberlangsungan teknologi internet ini. Saya yakin begini, karena apa yang saya alami ketika melihat perkembangan internet sejak tahun 1990-an begitu pesatnya. Mulai dari teknologi fiber optic sampai dengan nirkabel yang membuat akses internet semakin menggila kecepatannya. Semua itu membuktikan bahwa manusia masih terus berusaha. Manusia masih selalu diberi fitrah oleh Tuhan untuk terus berkarya. Dan apakah Tuhan akan menghentikan karya manusia yang sangat bermanfaat bagi manusia itu sendiri? Where there is a will, there is a way.

15 April 2008

Menggagas Pendidikan di Indonesia

Tahun ajaran baru sudah mulai dekat. Saatnya sekolah-sekolah membuka pendaftaran bagi siswa didik baru. Ironisnya, pihak sekolah bancakan, sementara masyarakat kelas menengah ke bawah meringis kesakitan. Kenapa?

Tidak ada orangtua yang mengharapkan anaknya masuk ke sekolah yang non-favorit. Namun sayangnya, sekolah-sekolah favorit mematok biaya yang relatif tinggi. Tentunya biaya yang relatif tinggi itu sangat menyesakkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Haruskah memaksakan diri demi pendidikan anak?

Banyak yang bilang, pendidikan anak adalah segala-galanya. Bahkan nyawa pun taruhannya demi menjadikan anak terdidik dengan baik. Tapi haruskah hal demikian ini dimanfaatkan oleh sekolah-sekolah yang berhasil mendapatkan predikat favorit? Sungguh bukan moral dasar pendidikan bila sampai terjadi hal yang demikian.

Pemerintah harusnya mulai peduli dengan hal ini. Jangan asal mengatakan peduli, tapi tidak terlihat dalam tindakan yang signifikan. Kalau toh peduli, apa alasan pemerintah tidak segera mewujudkan anggaran 20% dari RAPBN untuk pendidikan? Sebegitu sulitnyakah?

Ujian Nasional
Pemerintah masih percaya bahwa Ujian Akhir Nasional atau UASBN adalah satu-satunya tolok ukur pendidikan di Indonesia. Banyak pakar pendidikan mengatakan hal ini salah besar. Ujian Nasional malah cenderung menimbulkan bentuk-bentuk korupsi baru.

Agaknya menghapus Ujian Nasional menjadi momok para pejabat di dunia pendidikan. Bagaimana tidak, pendapatan yang bisa dikeruk dari Ujian Nasional ini begitu besar. Dana yang semula dianggarkan Rp 500 juta, lalu dipangkas oleh Komisi X DPR menjadi Rp 96 juta tapi tetap saja berani dijalankan (Kompas, 27 Maret 2008). Dari Rp 500 juta menjadi Rp 96 juta tersebut bisa kita lihat bagaimana kemampuan pemerintah dalam menganggarkan sesuatu. Kecurigaan bahwa Ujian Nasional juga menjadi bancakan bagi pihak-pihak tertentu kemungkinan memang terjadi.

Bahkan menurut saya, adanya Ujian Nasional bisa mematikan daya kreatifitas siswa pada bidang ilmu lain. Bagaimana tidak, semua siswa terfokus pada pembelajaran untuk mata pelajaran yang di-UN-kan. Sementara bagaimana jadinya bagi mereka yang memiliki kecerdasan musical yang tinggi? Bagaimana dengan siswa yang lebih menyukai bidang seni? Pun tidak ada gunanya mata pelajaran Bahasa Jawa di wilayah Surakarta. Tidak ada gunanya Pemkot Solo menggembar-gemborkan untuk melestarikan budaya Jawa. Untuk apa belajar ndalang (menjadi dalang wayang kulit), atau belajar susah-susah huruf honocoroko (huruf Jawa) bila akhirnya tidak ada masa depannya untuk pendidikan lebih tinggi.

Ketika semua siswa tersihir oleh Ujian Nasional, maka rusaklah pendidikan di Indonesia. Semua hancur berantakan, karena segala daya upaya dilakukan oleh para siswa, guru dan pihak-pihak terkait seperti lembaga-lembaga bimbel, untuk menghasilkan nilai siswa di atas standar. Terlupakan sudah kreatifitas bangsa negeri ini. Semua sudah terprogram seperti robot oleh software yang maha dahsyat yang disebut sebagai Ujian Nasional. Begitu memprihatinkan!

Buku Pelajaran
Solusi buku pelajaran murah agaknya belum bisa memberikan kontribusi yang adil bagi masyarakat. Ide pemerintah yang membeli hak cipta beberapa buku pelajaran yang nantinya akan digunakan oleh sekolah-sekolah bisa ‘membunuh’ pasar buku pada umumnya. Pemerintah telah memonopoli keuntungan satu pihak, dan mematikan pihak lain, terutama penerbit-penerbit yang telah lama menguasai pasar buku pelajaran. Meski pemerintah berdalih bahwa buku-buku tersebut bisa diproduksi oleh khalayak umum, tapi harga maksimal Rp 7.500,- sulit untuk ditolerir pihak penerbit dibandingkan harga lama. Lagi-lagi timbul kecurigaan adanya proyek terselubung dari pejabat terkait dalam hal ini.

Ada seorang rekan sewaktu omong punya omong memberikan gagasan yang bagus mengenai buku pelajaran sekolah ini. Apakah tidak dimungkinkan para pengusaha di seluruh negeri dilibatkan dalam hal ini? Biarkan para pengusaha—yang termasuk anak-anak bangsa—secara tidak langsung ikut serta memikirkan dunia pendidikan. Bagaimana caranya?

Sediakan tempat dalam buku-buku pelajaran tersebut untuk beriklan yang berhubungan dengan pendidikan. Misalnya lembaga-lembaga pendidikan dan toko-toko buku berpartisipasi menyumbangkan sebagian dana promosi mereka untuk beriklan dalam buku-buku pelajaran. Mirip dengan buku Yellow Pages yang dibagikan secara cuma-cuma pada semua pelanggan Telkom.

Dengan iklan-iklan yang berhubungan dengan pendidikan, selain memberi informasi tambahan, menjadikan buku pelajaran sangat dimungkinkan untuk dibagikan secara gratis.

Iklan dalam buku pelajaran? Phobia seperti yang dialami TVRI masa orde baru sepertinya membayangi sebagian orang. Dulu TVRI paling anti dengan iklan dalam setiap program acaranya. Tapi bagaimana perkembangannya sekarang? Dilihat dari umur, stasiun-stasiun televisi swasta jauh lebih muda tapi perkembangannya begitu pesat dan program-program acaranya sangat menarik sekaligus berbobot (meski cuma beberapa stasiun televisi swasta yang memiliki program acara berbobot).

Silakan belajar juga pada perusahaan super raksasa, Google. Dari mana penghasilan perusahaan tersebut selama ini? Tak lain dan tak bukan hanyalah dari iklan semata. Dan ini membuat Google merajai dunia bisnis.

Bila iklan dan buku pelajaran menjadi satu, maka terwujudlah sinergi yang menjanjikan antara pendidikan dan pengusaha. Pengusaha dalam hal ini ikut andil dalam dunia pendidikan. Selama ini, apa andil pengusaha terhadap pendidikan?

Seandainya sinergi antara pengusaha dan pendidikan ini terwujud dalam berbagai hal, niscaya pendidikan murah akan lebih mudah direalisasikan.

Contoh lain bisa dilihat bagaimana peran usaha stasiun-stasiun televisi swasta berhasil mengumpulkan dana dari para pemirsa mereka untuk membantu daerah-daerah yang terkena musibah. Ambil contoh, Aceh yang telah diserang gelombang tsunami. Beberapa stasiun televisi dan media massa lain telah memberi bantuan dalam jumlah yang tidak sedikit. Bagaimana jika sinergi ini diterapkan dalam dunia pendidikan? Jadi tidak hanya pemerintah saja yang memiliki beban (atau malah bancakan, karena memonopoli) terhadap dunia pendidikan.

Semua itu jika kita sadar bahwa pendidikan yang baik adalah dasar utama sebuah negara untuk lebih maju. Namun sebaliknya, jika kita sudah tidak mau peduli lagi dengan pendidikan, maka rusaklah negara[dh]