04 November 2013

Malam 1 Suro vs Halloween

Malam ini malam 1 Suro, malam di mana orang Jawa mempercayai malamnya para roh bergentayangan. Entah benar atau tidak, itu informasi yang aku peroleh semasa kanak-kanak. Jadi malam 1 Suro dianggap malam yang angker.

Hal tersebut mengingatkan kita pada Hari Halloween yang diperingati orang-orang Eropa dan Amerika setiap akhir bulan Oktober. Di malam Halloween, banyak orang berpesta, termasuk anak-anak dengan mengenakan kostum berbagai macam hantu. Ada yang mendandani dirinya sendiri sebagai vampir, ada yang menjadi zombie, dan macam-macam hantu yang terkenal di negeri sana. Tentunya tidak ada yang berkostum pocong atau kuntilanak, karena hantu tersebut tidak dikenal dalam budaya mereka.

Uniknya anak-anak di sana, pada malam Halloween, dengan mengenakan kostum hantu yang lucu-lucu, mendatangi rumah-rumah tetangganya. Mereka mengetuk pintu. Ketika pintu dibuka oleh pemiliknya, mereka berseru, "Trick or treat!" Itu berarti mereka minta diberi permen. Konon jika si pemilik rumah tidak memberi permen, maka rumah itu akan dijahili dengan entah apapun caranya. Tentunya untuk menghindari kejahilan mereka, si pemilik rumah tanpa sungkan memberi anak-anak permen. Anggap saja sebagai suatu kebaikan. Ya kan? Hehehe.....

Sementara di Indonesia, pada malam 1 Suro tidak ada sesuatu yang spesial. Hanya sedikit orang yang masih mempercayai kesakralan malam tersebut. Bagi orang-orang moderen seperti saya, sudah menganggap seperti malam-malam biasa.....eh, enggak ding.....maksudnya seperti malam Minggu, karena besoknya libur! Hihihihi......

Mungkin beberapa orang, entah percaya atau tidak dengan mitos itu, memanfaatkan malam 1 Suro untuk mengadakan sesuatu yang spesial. Hal ini terutama dilakukan oleh anak-anak muda atau warga di kampung. Mereka menyebut sebagai tirakat. Tirakatnya hampir sama dengan malam 17 Agustus. Cuma bedanya, mungkin tidak semua warga ikut andil, dan tidak semua kampung melakukannya.

Malam tirakat 1 Suro bagi orang moderen dilakukan secara terbatas. Bagi kalangan menengah ke bawah, ada yang sekedar bakar jagung sambil ngopi atau wedang jahe. Sekelompok orang ada yang nongkrong di wedangan sampai larut malam. Ada juga yang mengadakan pesta-pesta tertentu sesuai dengan selera mereka.

Di waktu kecil, ayah dan ibuku memiliki ritual unik di malam 1 Suro. Mereka mengajak aku dan saudara-saudaraku (aku punya 2 saudara), untuk berkumpul di ruang tengah sambil main kartu remi sampai larut malam. Kami biasa begadang. Waktu itu tidak ada kopi, mungkin karena kami masih kecil. Yang ada hanya teh atau wedang jahe, dan sekedar air putih. Untuk makanan ringannya ada kacang goreng, singkong dan ketela goreng, dll. Aku paling suka makan, jadi betah melek kalau ada makanan lengkap seperti itu.

Kadang ada juga tetangga dekat yang ikut berkumpul dengan kami. Tidak banyak, hanya 1 atau 2 orang saja. Biasanya tetangga yang sering ke rumah, mungkin teman akrabku atau saudaraku.

Yang menarik dari tradisi kami tersebut, kami bisa tertawa bersama. Saling bercerita. Lebih mendekatkan orangtua dan anak, sehingga kami sangat akrab, termasuk dengan saudara kandung sendiri.

Ketika kakakku sudah mulai masuk STM (dulu sebelum diubah menjadi SMK), dia tidak ikut lagi tradisi keluarga itu. Ia sudah sibuk dengan teman-temannya sendiri di luar rumah. Demikian pula diriku. Tradisi tersebut bubar dengan sendirinya. Dan sayang sekali, aku tidak melanjutkan tradisi itu pada anak dan istriku. Istri yang seharian kerja, biasanya pulang di waktu maghrib dan sudah kecapekan. Setelah isya' biasanya dia langsung tidur karena sangat ngantuk dan capek. Sementara anakku lebih suka bermain game di komputer atau konsol WII. Kalau sudah capek, dia juga langsung tidur. Tinggal aku sendirian di depan komputer sampai larut malam. Begadang sendirian dengan teman-teman di media sosial, kadang main game di komputer, kadang menulis ide yang bisa ditulis, dan kalau ada film bagus yang perlu ditonton ya nonton film bisa sampai pagi.

Eh, malah yang terpenting kelupaan nih! Di malam 1 Suro, Kraton Solo biasanya melakukan Kirab Pusaka Kraton yang diiringi orang-orang Kraton. Dan yang paling spesial adalah adanya kerbau keramat yang disebut sebagai Kebo Kiai Slamet. Aku sendiri pernah nonton kirab tersebut pada masa kecil. Tapi ketika menginjak usia remaja, aku sudah mulai tidak menyukai keramaiannya.

Selamat Malam 1 Suro! Happy Halloween! Bagaimana dengan malammu? :)

01 November 2013

Menulis Itu Candu

Tidak semua orang suka menulis. Tapi semua orang bisa menulis, karena pelajaran menulis sudah diajarkan sejak bangku sekolah Taman Kanak-Kanak meski cuma menulis huruf abjad.

Kenapa kita tidak suka menulis? Itu masalahnya! Biasanya orang yang tidak suka menulis adalah orang yang tidak suka membaca. Sebaliknya orang yang suka membaca, pasti suka menulis, meski tidak untuk saat ini. Orang yang suka membaca akan memiliki keinginan untuk menulis. Entah kapan keinginan itu akan diwujudkan, semua tergantung dari rangsangan dalam hidupnya.

Orang yang suka membaca akan bertambah wawasannya. Orang yang suka membaca cerita fiksi, akan meningkat daya imajinasinya. Dengan bertambahnya wawasan atau peningkatan daya imajinasi tersebut, bila terus-menerus ditambah dan ditingkatkan, lama-lama akan meledak juga. Ledakan itu dalam wujud tulisan!

Lain halnya jika kegiatan membaca terhenti gara-gara kesibukan lain. Otomatis tidak akan bisa memunculkan rasa suka terhadap menulis sebelum perasaan itu muncul. Tapi bila perasaan itu pernah muncul saat seseorang suka membaca, maka meski kegiatan membaca berhenti cukup lama, suatu ketika akan muncul lagi perasaan itu apabila ada rangsangan yang mengarah ke sana.

Bagaimana menulis bisa menjadi candu? Sama seperti seorang anak yang suka bermain game PS atau komputer. Tiap hari si anak itu pasti akan memainkannya. Seolah sudah menjadi candu memainkan game yang dia senangi.

Demikian pula dengan membaca. Jika kita sudah bisa merasakan asyiknya membaca, maka tiap hari kita akan membaca buku-buku yang kita senangi. Kita hampir tidak akan pernah lepas dari buku. Ketika mau tidur, bangun tidur, bahkan ketika berangkat bekerja atau sekolah, buku itu kita bawa. Dan di kantor/sekolah, kita mungkin akan mencuri waktu untuk membaca buku itu.

Lain jika ada orang yang suka membaca lantaran hanya karena ingin menghabiskan waktu saja, atau membunuh kebosanan. Itu baru tahap awal sebelum menyukai. Jika rasa suka itu belum muncul, maka sulit untuk membiasakannya. Sama seperti orang yang jatuh cinta. Ketika kita jatuh cinta pada seseorang, bukankah kita ingin selalu bersama orang yang kita cintai itu? Kecintaan terhadap kegiatan membaca pun demikian.

Maka bila membaca belum menjadi candu bagi kita, maka sulit untuk menyukai kegiatan menulis. Tapi jika menulis sudah menjadi candu, maka sehari tidak menggerakkan jari-jari tangan ke tuts keyboard, rasanya akan gatal bukan kepalang!

Anda tidak suka membaca? Jangan coba-coba untuk menulis!

Anda ingin suka menulis? Banyak-banyaklah membaca!