11 Maret 2017

PEDULI SAMPAH DI NEGERI INI

Perkara sampah di negeri ini sudah mengganggu pikiran saya sejak duduk di bangku SD. Baru2 ini Kang Emil, panggilan akrab walkot Bandung Ridwan Kamil, sampai memberikan jari tengahnya lewat twit gara2 warga yg meninggalkan sampah sembarangan. Kemarin jg seorang rekan yg menjadi dosen di suatu perguruan tinggi di Indonesia yg sangat terkenal, mencak2 gara2 satu sudut kampusnya berserakan sampah yg ditinggalkan para mahasiswa. Hal semacam itu bukan hal yg baru. Sama aja terjadi di kampus saya sendiri.
Lantas pertanyaannya, seberapa tingkat kecerdasan orang2 di negeri ini dalam memperlakukan sampah?
Masih banyak warga yg membuang sampah sembarangan. Di sungai2 atau tanah2 kosong, termasuk pinggir jalan atau pinggir rel kereta api. Padahal tempat2 itu bukan tempat pembuangan sampah yg semestinya. Kenapa demikian?
Saya sudah mendengar sejak SD klo di negara2 maju, tiap warganya sudah mengelola sampah dg baik. Saya tahu hal ini dari cerita orang2 di sekitar saya & guru2 saya, krn saya blum pernah sama sekali ke negara2 maju. Saya jg seorang sufi (suka film), jd saya bisa melihat budaya penanganan sampah oleh warga di negara maju itu dari film, baik film komersil maupun film dokumenter. Nah, apa yg telah mereka lakukan?
Di negara maju, tiap rumah tangga sudah menyiapkan minimal 2 jenis bak sampah, yaitu sampah organik & anorganik. Sementara di negeri ini, sampe saya segede ini, masih banyak pembuangan sampah asal brak-bruk begitu saja. Tukang sampah jg sangat kotor & bau. Tidak spt di negara2 maju yg jauh lebih bersih dg alat pengangkut yg modern.
Di negara2 maju jg ada peraturan2 berkenaan dg pembuangan sampah yg diikuti dg penerapan denda2 secara disiplin. Denda2nya begitu besar jumlahnya, sehingga warga tidak ada yg berani membuang sampah sembarangan, karena itu pelanggaran & bisa kena denda.
Saya percaya bahwa kedisiplinan itu dimulai dari memaksakan diri. Pemaksaan tsb harus diikuti dg penyadaran. Bukan malah terbalik. Meminta warga utk punya kesadaran dg sendirinya itu sangat tidak mungkin. Harus ada paksaan2 yg diikuti dg pendidikan2 mental. Selanjutnya warga akan terbiasa & menjadi kebiasaan.
Coba lihat saja, jika orang dewasa sudah suka membuang sampah sembarangan, apa yg akan dilihat oleh anak2 yg dekat dgnya? Membuang sampah di sungai, mobil2 yg berjalan jg seringkali mengeluarkan sampah2 melalui jendela mobil, sisa2 rokok yg dibuang begitu saja, & jenis2 sampah lainnya yg tak dipedulikan. Kebiasaan ini menurun ke generasi berikutnya, sehingga semakin sulit utk ditanggulangi lagi.
Lewat tulisan ini saya tidak menyarankan kalian utk membuang sampah pd tempatnya. Itu sebuah kemustahilan. Semua tergantung kalian sendiri. Seberapa tinggi kecerdasan kalian thd sampah. Kecerdasan ini sebetulnya tidak butuh tingkat pendidikan yg tinggi. Anak2 kecil jauh lebih mudah diarahkan. Sediakan lebih banyak tempat sampah di rumah. Terapkan aturan2 dalam membuang sampah di lingkungan rumah. Lengkapi interior mobil dg tempat sampah, sehingga tidak membuang sampah melalui jendela mobil lagi.
Pada akhirnya semua jg tergantung pd pemerintah. Lurah, camat, bupati/walkot, & gubernur harus sadar akan hal ini. Perda2 ttg sampah harus diperketat, & diterapkan secara disiplin. DKI Jakarta sudah memulainya melalui pasukan oranye. Sungai2 bersih, lingkungan bersih, enak dilihat & bisa mengurangi banjir. Nah, bagaimana dg daerah2 lain? Pasukan2 oranye harus jg ada di daerah2, & bekerja secara maksimal. Selanjutnya sosialisasi ttg sampah harus jg digalakkan sampai ke tingkat RT/RW, Teknologi2 pengelolaan sampah wajib dimiliki. Dan saya selalu menunggu kepedulian pemerintah terhadap pengelolaan sampah di negeri ini. Sayangnya tidak ada paslon pilkada yg mau mengangkat masalah ini. Mungkin kelak klo saya ada kesempatan maju pilkada, cagub atau cabup. Semoga ada parpol yg mendukung saya, wkwkwkwk! Ngimpi, coy! :D :D