Tulisan ini saya buat setelah beberapa saat merenungi sebuah buku berjudul “Mengapa Muhammad tidak Memilih Kaya-Raya” oleh Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah, diterbitkan oleh Qudsi Media (qudsi_media@yahoo.co.id).
Jujur baru sekali saya membaca buku itu, namun efeknya seolah menghantam pikiran sehingga membawa kesadaran penuh akan apa arti hidup sebenarnya di dunia ini. Intelektualitas (baca: kedewasaan berpengetahuan) memang telah menyadari arti dari hidup. Namun seringkali nafsu, cita-cita dan dorongan dari luar menghalalkan segalanya sehingga membutakan kesadaran yang sudah ada. Terutama hidup di jaman modern ini.
Banyak orang jaman sekarang keblinger dengan gemerlap duniawi. Banyak orang menuntut dan memaksa dirinya sendiri untuk menikmati dunia ini sepuas-puasnya sampai tanpa batas. Kesenangan yang disadari hanya sesaat dipoles menjadi lebih hakiki. Pembenaran terhadap kesalahan adalah hal yang lazim.
Buku itu memang menunjukkan sikap hidup Rasulullah Nabi Muhammad saw. yang menjadi tokoh bagi umat muslim. Namun saya 100% yakin bahwa umat beragama lain akan meng-amin-i sikap semacam itu. Secara mendasar tidak beda jauh dengan sang Kristus atau sang Buddha. Esensinya hanya satu, yaitu: kesederhanaan.
Akan tetapi banyak orang sekarang ini yang mengaku Islam, Kristen, Katolik, Hindu maupun Buddha, dan agama lainnya, tapi melupakan (atau memang tidak tahu) pribadi sang pembawa agama itu. Orang Islam lebih mengidolakan musisi/penyanyi/bintang sinetron terkenal ketimbang Muhammad. Orang Kristen/Katolik pun demikian, lebih mengenal pribadi bintang film/sinetron dibanding sang Juru Selamat, Yesus Kristus. Agama hanya sekedar label bermasyarakat.
Menyimak sejarah hidup dua tokoh terbesar di dunia itu (setuju tidak kalau Nabi Muhammad & Yesus Kristus adalah orang-orang terbesar dalam sejarah dunia?), salah satu hal yang sangat terpatri dalam hati saya adalah sikap begitu sederhananya. Padahal keduanya kalau mau kaya-raya pada jaman itu, bisa saja. Muhammad menikahi janda kaya-raya, tapi beliau tidak pernah memanfaatkan harta istri beliau itu untuk kemewahan duniawi. Bahkan istri beliau, Khadijah, meninggal dalam keadaan miskin tanpa harta. Ke mana larinya harta Khadijah? Tak lain dan tak bukan adalah di jalan Tuhan.
Saya bukan pendeta, bukan ustadz apalagi ulama. Saya hanya orang biasa yang haus akan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu saya tidak bermaksud memberi ceramah/khotbah layaknya di tempat-tempat ibadah. Saya hanya sekedar berbagi pengetahuan dan pemikiran dengan para pembaca ketika melihat fenomena dunia yang di beberapa tempat sudah terlihat kemewahan dan kemegahannya ini.
Saya seringkali merenung ketika bisa merasakan nyaman ketika berada dalam mobil seharga cuma 50 jutaan, sementara banyak orang miskin berjejalan, berjubel-jubel dalam angkutan umum dengan bau berjuta rasa. Muncul rasa iba saya saat mengetik seperti ini dengan menggunakan notebook yang dibeli dengan harga hampir 10 juta, kemudian mengingat berita-berita yang barusan saya baca lewat SoloPos atau KOMPAS tentang kelaparan yang menimpa sebagian daerah di negara kita (terutama tragedi Lumpur Lapindo yang sampai sekarang masih kedengaran sangat tragis).
Saya memang sensitif. Tapi sampai saat ini saya tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara pemerintah sekarang hanya memikirkan perutnya sendiri dengan tidak mempedulikan nasib rakyat. Terlebih lagi membaca artikel di Harian KOMPAS pada hari Senin, 10 Maret 2008 halaman 37. Aritikel itu menunjukkan bahwa pemerintah kita sungguh brutal membiarkan rakyatnya sengsara. Sesuai dengan judul artikel yang berhubungan dengan kelaparan itu, yakni: “Peristiwa Brutal yang Dianggap ‘Biasa’”.
Memang sih ada penanganan-penanganan yang dilakukan pemerintah kita terhadap kelaparan di negeri ini. Namun, seperti yang ditulis dalam artikel itu, penanganannya bersifat sementara. Alhasil, kelaparan pun sering terjadi. Tambah lagi, harga sembako yang makin gila-gilaan, kelangkaan BBM, kenaikan tarif listrik dan air minum. Semua itu membunuh rakyat kecil.
Melihat fenomena semacam ini, perlukah kita bermobil mewah hanya sekedar untuk pamer? Haruskah kita mengganti handphone berharga mahal, sementara kita cuma butuh untuk nelpon dan SMS doang? Pantaskah kita menghias rumah dengan barang-barang mahal, agar dipandang berada oleh lingkungan kita?
Saya bukan penganut anti-orangkaya. Saya termasuk orang berada. Tapi juga bukan termasuk orang dermawan L. Saya sekedar sosok makhluk Tuhan yang sedang belajar memahami lebih mendalam esensi hidup. Bagi saya, hidup adalah mati. Barangsiapa yang ingat akan mati, insya Allah bisa memahami hidup ini. Seperti Umar bin Khattabh r.a. berkata bahwa orang yang cerdas adalah orang yang selalu ingat akan kematian.
Kemewahan bukan segalanya jika hanya dipamerkan. Kaya akan harta akan lebih bermanfaat jika dimanfaatkan di jalan Tuhan. Tapi bukan berarti membuat kaya pendeta, ustadz, ulama, atau pemuka agama tertentu. Bukan juga berarti untuk memegahkan tempat ibadah sehingga menimbulkan kesombongan yang begitu besar.
Memanfaatkan di jalan Tuhan berarti ikut berpartisipasi baik langsung maupun tidak langsung untuk kemaslahatan umat. Ikut serta memikirkan sesama, bukan yang segolongan. Mengembangkan kemampuan berempati daripada nafsu. Banyak belajar demi menimba ilmu pengetahuan secara seimbang, baik untuk dunia maupun akhirat.
Jika setiap warga negara Indonesia berwawasan luas, dan memiliki empati yang baik, niscaya belenggu keterpurukan akan berangsur-angsur sirna. Namun sebaliknya, jika pejabat-pejabat pemerintahannya korup, dan masyarakatnya bodoh serta hanya mengumbar nafsu, tidak lama lagi negara kita pun akan tamat riwayatnya.
Sangat tidak seimbang, ketika terlihat banyak mobil mewah berseliweran di jalan raya, gedung-gedung bertingkat nan megah menjulang tinggi, sementara masih banyak saudara-saudara kita yang dilanda musibah kelaparan.
Belajarlah untuk tidak hidup kaya-raya. Stop bermewah-mewahan. Tanamkan kesederhanaan dalam diri kita masing-masing, termasuk orang-orang terdekat anda. Belanjakanlah harta secara bijaksana. Jadilah tauladan yang baik dan benar bagi sesama. Jangan seperti para pejabat PLN yang mengembar-gemborkan untuk hemat listrik, sementara mereka sendiri boros listrik. Tidak juga seperti para pejabat Pertamina yang meminta rakyat untuk hemat BBM, sementara kebutuhan BBM untuk mereka gila-gilaan. Jikalau anda menjual produk bermerk A, maka pakailah selalu produk bermerek A tersebut. Jangan memaksa orang lain untuk memakan sesuatu yang anda sendiri tidak mau memakannya. Jangan suka mencubit orang lain jika anda sendiri tidak mau dicubit.
Salam sederhana!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar