Meski baru satu bulan, rasanya cukup lama tidak menuliskan sesuatu di blog ini. Oleh karena itu, di sela-sela kesibukan yang terus menampar tiada henti, saya sempatkan untuk menyambut perhelatan akbar dunia, yaitu EURO 2008.
Sudah lama tidak menikmati pertandingan sepakbola yang dulu pernah menjadi teman hidup kala kuliah. Teman hidup kala begadang mengerjakan tugas-tugas kuliah di malam hari. Teman hidup kala insomnia. Tapi semenjak anak pertama lahir, enam tahun lalu, teman hidup itu mulai menjauh. Tergantikan oleh istri dan anak tercinta.
World Cup 2006 yang lalu sempat menjadi obat rindu, atau tepatnya reuni dengan teman lama. Tiap pertandingan yang disajikan memberikan euforia tersendiri. Akankah tahun ini perhelatan EURO membawa nuansa nostalgia lagi?
Tapi sepertinya hidup bukan lagi seperti yang dulu. Tradisi begadang sampai malam hanya menunggu pertandingan bola sepertinya sirna. Mengatur waktu tidur sudah tidak bisa dilakukan lagi. Tapi highlight & siaran ulang di TV, harian Kompas & SoloPos, situs-situs di internet memberikan makna tersendiri bagi orang seperti saya yang sudah sulit untuk begadang malam.
Namun demikian, euforia EURO 2008 masih tetap terasa. Kerinduan terhadap "teman lama" masih bisa terobati dengan jadwal pertandingan yang terpaparkan. Akan tetapi, salah satu tim favorit, Inggris, tidak muncul di tahun ini. Gregetnya seolah terasa kurang. Apalagi ketika pertandingan antara Belanda melawan Italia, tim negara pizza itu dibantai 3-0 pada laga pertama bulan Juni ini. Akankah EURO 2008 kehilangan euforia-nya sampai final nanti? Just wait and see. Deddy Cobuzier, sang mentalist Indonesia, menambah euforia ini lewat perseteruannya dengan Roy Surya berkenaan dengan perhelatan akbar dunia bola ini. Siapakah pemenangnya di final nanti? Lagi-lagi, just wait and see...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar