Ada temen yg bisnisnya lagi naik daun, bertanya, "Bagaimana sebenarnya hukum Islam ttg hutang di bank? Banyak yg bilang itu riba."
Dengan tegas saya jawab, "Ya! Itu riba," Dan dia tampak kecewa mendengar jawaban dari saya. Sepertinya banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya, tp sungkan utk mengutarakannya. Lama kami terdiam.
Aku paham apa yg dirasakan & dipikirkannya. Lalu aku menjelaskannya bhw riba itu jika bunganya terlalu besar sehingga memberatkan yg berhutang di kemudian hari. Mereka yg kampanye soal hutang di bank itu riba selalu mencontohkan bisnis2 yg gagal, orang2 yg terpuruk oleh hutang di bank. Mereka seolah menyembunyikan orang2 yg sukses dalam bisnis karena bantuan bank. Jadi mana yg benar. Wallahu alam.
Saya mencoba menengahi. Keberadaan bank sejak lama menunjukkan bahwa bank tidak ada masalah scr hukum Islam sampai sekarang. Sebagaimana munculnya teknologi, keberadaan bank spt 2 sisi mata uang yg berbeda. Satu sisi bisa memberi efek buruk, sisi lainnya memberikan kebaikan. Semua tergantung orang yg memanfaatkannya.
Jadi pikirkan dulu ketika mau berhutang di bank, mengambil kredit, atau bekerja-sama dg leasing. Semua itu bentuk hutang & yg pasti ada bunganya. Dalam Islam memang semua yg berbunga (bukan bunga di kebun/taman lho) itu riba. Oleh karena itu benar2 harus dihindari, kecuali bila perlu. "Perlu" di sini bukan berarti "urgent". "Perlu" di sini butuh pemikiran matang & siap mengantisipasi risikonya.
Yg namanya hutang pasti membayar cicilan. Kita hrs benar2 cerdas dalam memperhitungkan cicilan tsb. Jangan terlalu fokus pd jumlah uang yg akan diterima, atau keperluannya. Berpikirlah jangka waktu berhutang beserta cicilannya & risiko2nya. Klo tidak terlalu penting, tidak usah berhutang.
Mendengar penjelasan tsb, mata temen saya itu mulai berbinar. Ia kembali bertanya, "Bagaimana dg bisnis yg butuh utk berkembang? Apakah boleh berhutang di bank?"
Berkembang utk apa? Gengsi? Gaya hidup? Bertambah kaya? Stop! Klo bisnis itu sudah memberimu tempat tinggal yg layak & sandang pangan yg cukup, lalu untuk apa lagi?
"Lho, boleh kan kita menginginkan hidup kita berubah?" sahutnya.
Tidak ada yg melarang keinginan kita utk mengubah hidup kita sendiri tanpa mengganggu kepentingan orang lain. Memangnya tidak ada cara lain utk mengubah hidup selain berhutang? Cobalah lihat gaya hidup orang2 jaman sekarang. Mobil2 mereka bagus, tp masih kredit. Rumah2 mereka megah, tp jg kredit. Bisnis mereka berkembang, tp mereka tidak lagi punya banyak waktu utk keluarga bahkan beribadah! Naudzubillah tsumma naudzubillah. Maukah hidup kita spt itu?
Klo semisal hidupnya berubah menjadi baik secara kuantitas, harusnya jg diikuti baik secara kualitas. Percaya aja deh, lebih baik kita menjauhi riba. Entah benar atau tidak, hindari aja. Pake motor/mobil butut tak masalah, asal beli cash. Punya rumah kecil tak masalah, asal belinya jg bener. Ingat, kita tidak bisa mendahului kehendak Tuhan. Kita boleh berencana, tp Tuhan tetap yg menentukan. Jangan takut dianggap miskin. Jangan takut dianggap tidak berkembang dalam hidup. Tp takut lah pd Allah. Setuju?
Dia manggut2, tp masih ada rasa kecewa di matanya. Kasihan
:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar