Kalau ada orang yang menganggap bahwa membaca komik adalah kegiatan negatif, maka terkutuklah orang itu! Komik bukanlah sampah. Komik bukanlah buku berkualitas rendah. Komik tidak pernah merusak moral anak.
Ada baiknya memandang sesuatu jangan hanya dari kulitnya saja. Buku tidak bisa dikatakan bermutu hanya karena sampulnya bagus. Buku tidak dilihat berkualitas hanya karena tebal atau tipisnya buku tersebut. Satu-satunya yang membuat sebuah buku berkualitas atau tidak hanyalah pada isinya. Jika isi buku itu berbobot, maksudnya mendidik dan tidak menyesatkan, maka berkualitaslah buku tersebut.
Demikian pula dengan komik. Komik yang bermutu akan berisi pendidikan moral yang baik. Misalnya, komik-komik superhero dari Amerika, seperti Superman, Spiderman, X-Men, dan lain-lain, telah memberikan kontribusi pada anak akan sosok seorang pemberani. Salah satu yang saya ingat, komik Spiderman memberikan pendidikan moral bahwa semakin tinggi kemampuan seseorang, semakin tinggi pula tantangan dalam hidupnya. Yang dimaksud dengan ‘kemampuan’ di sini bisa jadi ‘kepandaian’ atau ‘ketrampilan’. Orang yang pandai atau trampil akan menghadapi banyak tantangan. Misalnya, seorang pengusaha pandai dan trampil akan menghadapi tantangan-tantangan bisnis; seorang guru yang cerdas akan tertantang untuk menaklukkan siswa-siswa yang bodoh untuk dijadikan pintar.
Komik kartun terkenal lainnya, seperti Smurf, memberikan kontribusi unik tentang pentingnya bergotong-royong. Sementara komik Disney juga memiliki sisi pendidikan moral yang unik tentang nilai-nilai psikologi, misalnya hasil negatif dari tindakan angkuh dan tamak. Masih banyak lagi komik dari dataran Amerika dan Eropa yang memiliki nilai moral cukup bagus. Kalau perlu disebutkan, yaitu: Petualangan Tintin, Steven Sterk, Asterix & Obelix, dan masih banyak lagi.
Namun demikian ada pula komik yang tidak bermutu. Beberapa komik manga dari Jepang—tidak perlu saya sebutkan, telah menampilkan keseronokan dengan menampilkan tokoh-tokoh gadis mengenakan rok super-mini. Belum lagi adegan-adegan telanjang lainnya. Beberapa komik dari Jepang itu nyaris tidak memiliki alur cerita yang jelas. Atau mungkin karena bersambung sehingga alur ceritanya seperti telenovela? Lain dengan komik-komik superhero yang kebanyakan dalam bentuk episode. Maksudnya, jika anda membaca komik Superman episode 20, anda tidak perlu khawatir kehilangan alur cerita, karena dalam episode itu ada cerita dan tantangan baru bagi sang tokoh.
Satu contoh komik dari Jepang yang cukup memiliki pendidikan moral yang bagus yaitu Kungfu Boy. Komik lama ini dikemas dengan cukup apik. Alur cerita merujuk pada pengembaraan sang tokoh dalam meningkatkan ketrampilan kungfu-nya. Komik itu menggambarkan betapa beratnya menimba ilmu. Dan tantangan-tantangan yang berat itu harus dihadapi, karena ilmu sangatlah penting dalam kehidupan.
Bagaimana dengan komik Shinchan? Sejauh ini, dalam pandangan saya, komik Shinchan pantas untuk dikonsumsi orangtua, karena di situ digambarkan betapa repotnya mengatasi anak yang hyper-active. Lihat saja, bagaimana Shinchan, sang anak, begitu cerewet dan bertingkah. Otaknya berkembang dengan cepat. Itulah gambaran anak-anak jaman sekarang. Akan tetapi komik itu tidak pantas dikonsumsi anak-anak, karena dimungkinkan akan menambah khasanah kenakalan si anak.
Ingat komik Shinchan, saya jadi teringat kartun The Simpsons. Serial kartun yang pernah ditayangkan di televisi itu pernah dikecam penonton Indonesia karena ditayangkan sore hari. Atas kecaman tersebut, akhirnya film kartun itu pun ditayangkan malam hari di mana anak-anak dimungkinkan sudah tidur dan tidak akan menontonnya. Kenapa dikecam? Film kartun itu sebenarnya cukup bagus dan lucu. Namun film itu hanya pantas dikonsumsi orangtua seperti halnya komik Shinchan. Kenapa? Karena banyak adegan dan kata-kata kotor dalam film itu. Perilaku sang tokoh, Bart Simpson, tidak beda jauh dengan Shinchan, bahkan lebih vulgar. Sementara ayahnya Bart Simpson, Homer Simpson, lebih mengerikan lagi. Tokoh Homer digambarkan sebagai orang yang mudah panik, suka mabuk-mabukan, dan perilaku aneh lainnya. Apakah itu bagus untuk anak-anak?
Oleh karena itu, kita harus melakukan seleksi yang baik terhadap komik yang akan kita baca. Saran untuk penerbit dan pembuat komik, ciptakan komik-komik bermutu. Negara kita pernah memiliki komik-komik bermutu, seperti seri cerita pewayangan Mahabharata dan lain-lain. Kita juga pernah memiliki komik seri silat atau superhero seperti Gundala Putera Petir. Komik-komik tersebut pernah berjaya di tahun ’80-an. Lalu di manakah mereka? Di mana generasi mereka?
Sekarang ini komik di Indonesia sepertinya terpuruk. Banyak komik manga bermunculan di pasaran. Beberapa komik Indonesia lama juga dicoba dikemas dalam bentuk manga, tapi agaknya penjualannya tidak sebagus komik Jepang itu sendiri. Bahkan komik dari Amerika dan Eropa pun mulai tersingkir. Memang, Jepang sedang merajai perkomikan dunia.
Kenyataan ini tidak mengharuskan kita melarang anak-anak membaca komik. Sebagai orangtua atau guru, kita harus mampu memilihkan bacaan-bacaan yang bermutu bagi anak-anak kita. Komik adalah dunia anak-anak. Kebanyakan anak belum mampu menikmati buku-buku teks seperti buku-buku pelajaran mereka. Anak-anak belum bisa dipaksa membaca buku-bukunya Andrias Harefa atau Robert T. Kiyosaki. Dunia anak adalah dunia visualisasi. Oleh karena itu, anak-anak lebih mudah dekat dengan televisi, karena televisi memberikan dunia visualisasi yang sempurna. Jangan sampai anak-anak kita terenggut oleh dunia televisi. Ajaklah mereka mengenal buku. Awalilah dengan komik. Berikanlah komik-komik yang bermutu. Kalaupun mereka menyukai komik-komik yang kurang bermutu, jangan lalu dimarahi. Saya pernah menemukan orangtua yang marah besar ketika melihat anaknya membaca komik. Bahkan dengan nada amarah besar, orangtua itu mengatakan: “Kalau baca komik terus, nanti Papa sobek-sobek komik itu!”
Melarang seseorang, terutama anak, membaca komik adalah sebuah pelanggaran hak asasi manusia. Anak-anak tidak bisa dilarang begitu saja. Bahkan anak sekarang cenderung memiliki sifat pemberontak. Lebih mengerikan lagi, apabila orangtua bersikap seperti di atas, dalam hidup anak akan muncul trauma terhadap buku. Selanjutnya si anak akan selalu menjauhi buku bacaan, karena takut dengan kemarahan orangtuanya. Akhirnya anak tersebut tumbuh tanpa bimbingan buku. Bagaimana jadinya ya?
Apabila si anak menemukan sebuah bacaan yang kurang bermutu, sebagai orangtua, kita harus melakukan pendekatan, bukan memarahinya. Ambil hatinya. Maksudnya, cari situasi di mana si anak merasa senang. Atau temukan waktu ketika si anak sedang asyik membaca komik itu. Dekatilah si anak dengan lembut, hilangkan amarah, kemudian tanyakan isi komik yang sedang dibacanya. Cari tahu sejauh mana si anak memahami isi komik tersebut. Sebelumnya, sebagai orangtua, kita jangan sekedar menilai komik dari penilaian orang lain saja. Ada baiknya kita juga membaca apa yang dibaca si anak. Tidak suka membaca? Nah lho, itu lebih parah lagi! Tidak tahu apa-apa, asal marah saja. Apakah anak diciptakan hanya sebagai tumpuan kemarahan? Apakah orangtua harus selalu di pihak yang benar, sementara anak selalu disalahkan? Ada kasus, ketika seorang ayah menaruh ember berisi air di pintu keluar, lalu si anak lewat dan menabrak ember tersebut sampai tumpah. Siapa yang disalahkan? Sebaliknya ketika si anak menaruh ember berisi air di pintu keluar, sang ayah lewat dan menabrak ember sampai tumpah. Siapa yang disalahkan? Selalu anak yang disalahkan. Benarkah?
Bagaimanapun juga, dengan membaca komik, anak mulai mengenal buku. Komik juga berisi kata-kata. Lewat kata-kata itu, si anak mempelajari bahasa tulis. Komik bisa menjadi titik tolak untuk mengarah pada buku-buku teks. Semua tinggal kita sebagai orangtua dalam mengarahkan minat baca si anak. Jangan pernah mematikan minat baca si anak, karena itu berarti sama saja dengan membunuh masa depannya.
Sebagai anak, membaca komik harus tahu aturan. Waktu belajar jangan digunakan membaca komik. Membaca komik dapat dilakukan di waktu luang, terutama waktu libur sekolah. Membaca komik lebih baik daripada menonton televisi atau bermain PlayStation. Bahkan lebih asyik lho!
Sudahkah anak anda mengenal komik? Selamat membaca komik! (dh)
1 komentar:
Tuuuulll...!!! BEneer bangET!!! SoaLnya Aq PenGgeMar KoMik SicH, dAh Dari Tk MalaHan! DuLu q Paleng SeriNg Baca KomiK MonIka dKk, KaLo SeKAraNg SuKanYa BaCa ManGa...BahKan GarA2 TerLalu SerIng BacA, Aq JaDi BiSa LaNcaR MemBaCa (JadI IngEt WakTu PerTaMa KaLi BiSa LanCar MeMbaCa, Aq SeNeng BanGet!!^_^...)
Posting Komentar