Sempat heboh soal pernyataan Presiden Jokowi yg memberi pesan bahwa politik dan agama harus dipisahkan. Pesan tersebut disampaikan saat beliau melakukan kunker di Kelurahan Pasar Baru Gerigis, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara pada Jumat (24/3/2017) lalu. Banyak tokoh yg menanggapinya secara beraneka-ragam. Ada yg setuju, ada yg tidak setuju. Tentu saja mereka yg suka gembar-gembor tentang negara khilafah, pasti ngga bakalan setuju. Jadi ngga usah dibahas kaum yg satu itu
:D
:D
Kita bicara secara kebhinnekaan, menurut dasar negara kita yaitu Pancasila. Kita tidak merujuk pada satu agama saja. Negara kita mengakui 6 agama resmi. Oleh karena itu, klo merujuk pd satu agama saja, tentunya tidak fair. Kita harus merujuk pd semua agama yg diakui di Indonesia tentunya.
Pesan dari Presiden Jokowi tersebut memang berada dalam makna yg bisa menimbulkan kontroversi saat salah satu kaum agama tertentu lagi semangatnya menegakkan keadilan agama mereka. Ada yg lagi terbakar emosinya karena beberapa kasus sejak Pilpres terakhir yg dilanjutkan dengan Pilkada DKI.
Jika memahami pesan tersebut berdasarkan konteks yg sedang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, orang waras pasti paham. Pesan dari Presiden Jokowi memang benar. Hal ini untuk mengurangi suhu panas terhadap situasi politik. Banyak orang yg sudah dengan arogannya menggunakan jubah agama, mengutip ayat-ayat kitab suci, hanya untuk sekedar mencapai tujuan mereka dalam berpolitik. Banyak dari mereka yg berlindung dari jubah dan ayat-ayat tersebut. Mengerikan sekali!
Saya dulu sempat membaca buku tulisan Imam Samudera yg tidak boleh bebas beredar. Pandangan-pandangan dia terhadap Islam dan pengeboman (baca: aksi terorisme) sungguh mengerikan. Saya sendiri hampir saja terpengaruh dg ayat-ayat yg dikutipnya. Tapi alhamdulillah, saya orangnya waras selalu
:D
:D
Oleh karena itu, politik dan agama jangan disamakan dg kopi. Kopi bisa terasa enak jika dicampur dg gula bagi sebagian penikmat kopi. Demikian pula kopi dg susu terasa segar bagi yg suka kopi dan susu. Apalagi kopi dan coklat, wow, mamamia lezatos! Bahkan akhir-akhir ini pun orang mulai mencampurkan kopi dg matcha atau lebih dikenal dg sebutan green tea. Rasanya, saya belum coba, hihihi
:D
:D
Nah, jika agama dan politik dicampur, tunggu dulu! Mau dicampur dg agama apa? Tidak semua rakyat Indonesia beragama sama. Biarkan politik berdiri sendiri, agama pun juga demikian. Seperti kopi. Ada yg suka kopi, ada yg ngga suka kopi. Tapi warung kopi tetap aja ada. Orang yg ngga suka kopi, ngga bakalan marah-marah dg adanya warung kopi. Mungkin ada warung kopi yg menyediakan menu teh atau coklat. Klo ada orang yg ngga suka kopi, tentunya pesanannya ngga bakalan dicampur dg kopi. So, biarkan politik ada dg caranya sendiri, dan agama pun ada dg caranya sendiri. Ngga usah dicampur-campur. Klo mau nyampur, untuk kalangan sendiri aja. Ngga usah koar-koar di muka umum, sampai mengkafir-kafirkan atau bahkan tidak mau mensholatkan jenazah segala. Cukup kalangan sendiri yg tahu.
Bukankah begitu?
:D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar